Membeli Mimpi

Di era globalisasi dan gombalisasi ini, berbagai produk berlomba-lomba menjajakan mimpi. Ia menjelma sinetron dan lagu-lagu, agama dan gaya hidup, iklan-iklan, sampai berbagai hal yang absurd adanya. Cara penjajaannya bermacam-macam. Mulai dari yang paling “preman” sampai yang paling persuatif.

Tetapi seperti apapun cara menjajakannya, mimpi-mimpi itu bisa dibeli secara kredit. Setiap orang boleh menyentuh, meminjam, menyimpan, bermain dengannya di dalam angan-angan, sampai pada suatu ketika datanglah tagihan yang mengejutkan. Tidak semua orang bisa membayarnya dan tidak semua yang bisa membayarnya tahu efek samping dari mimpi-mimpi itu; mimpi tetap mimpi karena tak pernah menempuh perjalanan menuju kenyataan.

Pada edisi ini, Salamatahari menghadirkan mimpi-mimpi yang bisa dibeli tanpa udang di balik batu. Ada bibit bunga perak yang dibeli Anak Beruang, ada mimpi-mimpi yang dibeli lewat perjalanan Jakarta-Bandung, ada mimpi menciptakan majalah alternatif yang sudah terbeli oleh Anggun Priambodo, dan ada mimpi tentang permen Chupa Chups vanilla-cokelat-strawberry yang hadir sekilas; boleh dibeli, boleh juga tidak.

Teman-teman, selama kita tahu bagaimana menabung untuk membeli impian itu, mimpi mengantar kita menaklukkan harapan.

Selamat bermimpi, jangan sampai lupa bangun kembali.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

Soal Jual-Beli Mimpi Bersama Anggun Priambodo

resizedanggun Jika kamu pernah melihat video klip Kuncianmu dari BIP, Senandung Maaf dari White Shoes and The Couples Company, Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia dari Naif, atau iklan “Telpon Rumah” dari Telkom, ini dia man behind the scene-nya: Anggun Priambodo.

Di awal tahun, seniman ini memenangkan Bandung Contemporary Art Awards untuk parodi sinetronnya, “Sinema Elektronik”. Karena ini edisi “Membeli Mimpi” dan sinetron selalu disebut-sebut sebagai penjualnya, Salamatahari menanggap Mas Anggun sebagai penyalamatahari.

Wawancara dilakukan ketika Masnya sedang sakit. Semoga cepat sembuh … =)




Mas Anggun, cerita, dong, tentang karya Mas Anggun yang “SinemaElektronik”. Kenapa kepikiran bikin itu ?
Kepikiran terus karena memangsinetron udah masuk ngeracunin otak kita tiap hari ..hehehe... semua yang adadi sinetron palsu, tapi itu yang laku dijual oleh media tv kita, drama … kitasuka didramain...

Proses kreatifnya gimana?
Proses kreatifnya dengan mulainyari ide sudut pandang apa yang bisa dibuat untuk karya, lalu membuat musikdan shotlistnya, lalu di-break ke lembar persiapan, apa aja yg musti guekerjaain sebelum hari produksi, ngumpulin crew (make up artist, cameraman, artdirector), dan cari lokasi.

Setuju nggak kalau sinetron disebut ngejual mimpi?
Jelas menjual mimpi. Semua serba dilebih-lebihkan. Kita sukasama yang berlebihan, biar orang merasa ingin terus, kurang terus...


Itu kan tadiyang ngejulanya, ya. Kalo denger kata “Membeli Mimpi”, apa yang ada di pikiranMas Anggun?
Sebuah program tv, omongan tukang ramal, dan motivator.

Baiklah. Cukuptentang mimpi-mimpi. Sekarang tentang kenyataan. Katanya Mas Anggun barunerbitin majalah yang namanya Majalah Cobra, ya? Itu majalah apa, sih?
Itu majalah yang berpoison. Ceritanya kita mau buat mediayang menandingi media-media kurang seru yang dijual di lapak-lapak itu. Nggakada majalah lokal yang seru, semua pingin frenchise dari luar. Kalopun udahfrenchise, pada akhirnya ternyata gagal untuk menyuarakan berita karena semuamau masukin iklan. Tapi Cobra mauindependent dengan nggak mau disetir oleh iklan dan mau punya karakter sendiri.Media yang bermula dari orang kreatif bukan orang marketing yang ga punyaselera. :)


majalahcobra

Ihiw! Asik banget, nih. Semoga Majalah Cobra bisa berjaya. Bisa didapetin di mana aja majalahnya?
Udah tersebar luas, kok...hehe... ada di Salihara, Aksara book store, Hey Folks, Dia.lo.gue, Rurushop (Jakarta), Lou belle shop, Omuniuum, Tobucil, 347, Rumah Buku (Bandung), Ivaa shop dan Origin (Jogja), c20 Surabaya, Belukar Solo, Chambers Makassar... dan bisa order online.

Alamat kontak Majalah Cobra: majalahcobra@gmail.com. 1 tahun = 6 edisi plus kaos Cobra Rp 300.000,00.

Kenapa tagline-nya musti “majalah yang berpoison” ?
Karena seru hehehe …

Balik lagi ke urusan jual-beli, sekarang ini barang apa yang paling pengen Mas Anggun jual dan barang apa yang paling pengen Mas Anggun beli?
Pingin beli mobil tanpa bahan bakar minyak, pingin jual mobil gue sekarang...karena pemborosan dan ga ramah lingkungan hehehe....

Terakhir. Apa pendapat Mas Anggun tentang Salamatahari?
Bagus namanya lucu, penuh teka-teki. Tidak biasa dan produktif.

Terimakasih banyak, semoga cepet sembuh, sukses selalu, karyanya tambah banyakkkk … dan makin berpoison.

Di antara mimpi-mimpi yang dijual berbagai media, di antara harapan-harapan yang terpaksa pupus karena tak bisa dilunasi, Majalah Cobra lahir sebagai alternatif. Di mana kira-kira posisinya? Kamu yang bisa menilai. Untuk tahu lebih banyak mengenai majalah ini, kunjungi http://www.majalahcobra.com/ atau follow twitter @MAJALAH_COBRA.

Dan untuk tahu lebih banyak tentang Anggun Priambodo, silakan mampir ke http://anggunpriambodo.com/

Pssst … Teman-teman, ketika bertandang ke situs-situs itu, jangan lupa membawa penawar poison, atau kamu akan .... zzzttttt …

Sundea

foto majalah Cobra dirampok dari artikel ini

Kisah Kupu-kupu Perak dan Bunga Perak

Seekor kupu-kupu perak melintas di depan hidung Anak Beruang. Tepi sayapnya berwarna pelangi dan wangi bunga. Anak Beruang, yang suka mengejar apa saja yang menarik hatinya, segera berlari mengikuti si kupu-kupu. Meski kupu-kupu itu terbang cepat sekali, Anak Beruang tidak menyerah. Dan meski Anak Beruang terlalu gendut untuk menyisip ke sana-sini seperti si kupu-kupu, ia tak kehabisan akal mencari jalan lain.


Kadang Anak Beruang kehilangan si kupu-kupu. Tetapi karena hari masih siang, cahaya matahari selalu berhasil menembus segala sela dan jatuh ke sayap perak kupu-kupu itu. Ketika cahaya memantul dari sayap kupu-kupu, Anak Beruang segera tahu di mana si kupu-kupu berada.

Lalu ia akan mengejarnya lagi.

Lalu kupu-kupu akan terbang lagi.

Dan mereka menyukai permainan itu.



Hingga tak sengaja Anak Beruang lewat di depan sebuah halaman mungil. Di sana tumbuh bunga-bunga perak dengan tepi kelopak berwarna pelangi. Langkah Anak Beruang terhenti.

Rumput-rumput tinggi menyembunyikan bunga-bunga tersebut, tetapi Anak Beruang dengan mudah menemukannya. Dan karena Anak Beruang selalu menghampiri apapun yang menarik perhatiannya, siang itu ia memanjat pagar, masuk ke halaman, dan berdiri lebih dekat dengan si bunga-bunga perak. Ketika Anak Beruang sedang berjongkok, sebuah suara menggelegar membelah ketentraman. 

“Hei! Sedang apa kamu di sini?!”
Anak Beruang spontan tengadah. Di hadapannya telah berdiri seekor Singa Besar dengan rambut seemas cahaya matahari.
“Aku Singa Besar. Ini halamanku. Kenapa kamu masuk tanpa meminta izin?” tanya Singa Besar itu sambil berkacak pinggang.
“Aku … itu, maaf. Aku Anak Beruang. Aku hanya ingin melihat bunga-bungamu dari dekat. Mereka bagus sekali.”
“Kamu tidak bermaksud mencurinya kan?” tanya Singa Besar itu sambil memicingkan mata penuh selidik.
“Tidak, kok,” Anak Beruang sedikit tersinggung.
“Bagus. Kalau begitu kamu bisa membelinya.”
“Heh?!”

Ternyata Singa Besar adalah petani bunga perak. 


“Bunga ini banyak manfaatnya. Selain indah, ia menyembuhkan macam-macam penyakit. Aromanya juga menentramkan perasaanmu,” promosi Singa Besar.
Anak Beruang tahu-tahu tersadar kalau sebelumnya ia sedang mengejar kupu-kupu.
“Aroma bunga-bunga ini sama seperti aroma kupu-kupu yang aku suka,” kata Anak Beruang.
“Kupu-kupu selalu terbang dan pergi, sementara bunga-bunga tinggal dan bertumbuh,” sahut Singa Besar.
Anak Beruang terdiam.

Anak Beruang sangat suka berlari-lari. Biasanya segala sesuatu yang tidak berlari tak akan lama-lama menarik perhatiannya. Tetapi bunga ini anomali. Dari bunga itu Anak Beruang menemukan kegembiraan dalam ketenangan yang diam. Ia seperti punya sihir yang membuat Anak Beruang tidak bosan sekaligus tidak lelah.

“Berapa harga bunga ini, Singa Besar?” tanya Anak Beruang.
“Aku tidak menjual bunga-bunga ini. Aku menjual bibitnya.”
“Berapa harga bibitnya?”
“Harganya adalah kesabaran dan ketekunanmu.”
“Apa untungnya kesabaran dan ketekunanku buat kamu?”
“Bukan untuk aku, tapi untuk bunga-bunga itu sendiri. Aku menyayangi bunga-bunga perak ini.”
Anak Beruang terdiam lagi.
“Jadi bagaimana? Kamu mau beli?” tanya Singa Besar memastikan.

Anak Beruang menatap sekelilingnya. Cahaya matahari jatuh di mana-mana, tapi tak ada cahaya yang terpantul-pantul dari sayap. Si kupu-kupu betul-betul sudah menghilang. Anak Beruang pun sudah tak ingin mencarinya. Entah mengapa ketenangan yang diam itu membuat Anak Beruang tak ingin berpaling dan berlari-lari lagi. Setidaknya saat itu.

“Aku akan membeli bibit bungamu,” Anak Beruang memutuskan.
“Baiklah. Jangan lupa. Kesabaran dan ketekunan memelihara bukan sesuatu yang murah.”
Anak Beruang mengangguk.

Anak Beruang pulang ke rumah sambil melompat-lompat. Diamat-amatinya bibit-bibit kecil berwarna-warni di telapak tangannya. Saat itu mereka belum menjadi bunga perak dengan kelopak bertepi pelangi. Tetapi Anak Beruang sudah merasa senang. Ia tahu nantinya bunga-bunga itu akan menjadi bunga-bunga perak, dengan kelopak bertepi pelangi, dan wangi sekali.

Kupu-kupu selalu terbang dan pergi, sementara bunga-bunga tinggal dan bertumbuh.

Ada satu masa dalam hidup Anak Beruang ketika ia hanya ingin duduk-duduk mengamati kepastian.


cerita dan ilustrasi Sundea

Untuk segala yang berlari-lari dan bertumbuh dalam diri anak-anak. Selamat menjelang Hari Anak Nasional 23 Juli =)

Pulang-Pergi dan Bermimpi

-CCF Bandung, Selasa, 19 Juli 2011-

Pameran Jakarta-Bandung PP

Petang itu auditorium CCF Bandung hening. Karya sepuluh orang seniman dari Jakarta dan Bandung terpasang takzim dan sunyi. Bertajuk “Jakarta-Bandung PP”, ruang pamer tersebut tak terasa seperti Bandung, pun Jakarta. Mungkin ia lebih mirip ruang kontemplasi yang merentang di antara jarak tempuh keduanya. 


Sepertinya setiap seniman menginterpretasikan jarak ini sesuai pengalaman personalnya masing-masing. Ageng Purna Galih yang seorang fotografer Bandung, membuat semacam majalah dinding digital print bertajuk “Road Trip Fiction”. Teks di kertas merupakan susunan huruf yang tidak bermakna. Tetapi foto yang biasanya berfungsi melengkapi teks justru memberikan ruang seluas-luasnya untuk kita baca. Foto ini misalnya. Coba kamu eja dengan teliti …






Lain lagi Andi Rharharha, street artist Jakarta dengan seni tape art (lakban)-nya. Teks hadir sebagai sesuatu yang terbaca apa adanya. Ungkapannya pun terkesan nakal dan cablak. Ini misalnya:



Salah satu karya instalasi yang juga menarik perhatian adalah “There’s a Light Never Goes Out” garapan Ritchie Ned Hansel dari Jakarta. Di atas sebuah meja beroda, neon bertuliskan “Trap” terkerangkeng dalam sarang berperingatan “Danger Do Not Touch! High Voltage Electricity”. Tak hanya itu, sang lampu masih dikepung oleh empat kursi hitam yang menatapnya secara intimidatif. Karya yang satu ini membuat hati saya sedikit sedih. Entah bagaimana, kadang-kadang tulisan “Trap” menjelma menjadi “Help” dalam pengelihatan saya. 


“Saya menganggap Bandung tempat mencari kehidupan dan Jakarta tempat mencari penghidupan,” tulis Ifan Ismail dalam pengantar pameran. Saya jadi teringat pada cuplikan lirik Lenggang Jakarta yang dipopulerkan oleh Andi Meriam Matalata bertahun-tahun silam,

Ribuan mimpi-mimpi ada
Menggoda mereka
Jangankan cari surga dunia
Neraka dunia pun ada

Berbondong-bondong orang-orang datang ke Jakarta untuk mengejar mimpinya, termasuk orang-orang dari Bandung. Tetapi kini warga Jakarta balik memadati Bandung untuk tidur dan bermimpi dalam arti yang lain. Setelah melewati hari-hari yang lelah dan menegangkan di ibukota, mereka mencari tempat menikmati hidup. Tol Cipularang memangkas waktu dan jarak di antara kedua kota ini. Bandung memfasilitasi kerinduan masyarakat dengan berbagai wisata belanja. Kemudian di kedua kota itu, mungkin orang-orang jadi asyik bermimpi.

Lalu keterjagaan serta kesadaran terselip pada perjalanan singkat melintasi aspal abu-abu yang kering dan sepi di sepanjang tol Cipularang. Takzim dan kontemplatif seperti karya-karya seniman Bandung-Jakarta yang diam pada 18 Juli hingga 30 Juli 2011 mendatang di Jalan Purnawarman no.32, Bandung.

“Jakarta dan Bandung saat itu adalah fenomena yang cukup umum: dua buah kota pada jarak yang pas untuk bisa mempertahankan karakter masing-masing, seperti pasangan Surabaya-Malang atau Jogja-Solo,” ungkap Ifan Ismail mengenai jarak Jakarta-Bandung sebelum hadirnya tol Cipularang.

Untuk hal ini, saya punya pendapat lain. Sebetulnya kehadiran Cipularang tidak akan mencuri apa-apa dalam jarak tempuh. Persoalannya hanyalah quality time ;)


Sundea

Chupa Chups Tiga Rasa yang Mengumpulkan Barang Bekas

Ia muncul tiba-tiba di depan pagar rumah Daud, teman saya. Tampilannya mengingatkan saya kepada Chupa Chups (permen loli) rasa cokelat-vanilla-strawberry. Sebelum saya sempat mencerna kehadirannya, ia sudah lebih dulu menangkap kehadiran saya.

“Neng, punya barang bekas?”
“Eh … euh …”
“Bibi ngumpulin barang bekas, Neng, apa aja, botol-botol, baju-baju, majalah,” dan begitu melihat Ricca, istri teman saya, muncul bersama bayinya, ia menambahkan, “Popok-popok bayi juga boleh.”
Ricca tersenyum ramah menanggapi, “Bayi saya pakai Pampers, Bu …”



Ternyata namanya Bi Ayi. Ia tinggal dekat kali, tak jauh dari rumah Daud dan Ricca di Arcamanik. “Saya mau punya cucu. Anak saya lagi hamil lima bulan, makanya kalau ada barang-barang bayi saya mau,” cerita Bi Ayi dengan senyum sumringah.

Meski tidak setiap hari, Bi Ayi kerap berkeliling ke mana-mana mendorong-dorong gerobaknya untuk mengumpulkan barang bekas. Tak hanya mengaduk-aduk tong sampah, ia tak pernah segan bertanya kepada pemilik rumah kalau-kalau ada barang yang tak terpakai. Jika hari raya tiba, ia juga tak sungkan menanyakan sisa-sisa makanan dari rumah ke rumah.


“Bibi, sih, apa aja mau, Neng. Makanya Neng ada nggak barang yang nggak kepake?” tanyanya lagi kepada saya.
“Yaaa … ada aja, sih, Bi, tapi di rumah. Aku kan ke sini main doang.”
“Neng rumahnya di mana?”
“Setiabudi.”
“Wah, jauh, ya, Neng …”

Tiba-tiba saja saya ingin memotret bibi berpenampilan Chupa Chups itu. Sebelum ia sempat mencerna mengapa saya mengeluarkan kamera dari tas, saya sudah lebih dulu menangkap gambarnya. 


“Wah, kok dipoto? Bibi malu …”
“Nggak apa-apa kan, Bi? Buat kenang-kenangan. Siapa tahu kita nggak akan ketemu lagi … hehehe …”

Ia akhirnya tersenyum saja, membiarkan saya memotretnya.

Setelah mendapat beberapa unit barang bekas dari teman saya, Bi Ayi pamit. Matahari cerah ceria jam sepuluh pagi mengiringi langkahnya. Cahaya yang bermain-main di sela rimbun pohon, teralis pagar, dan nuansa Chupa Chups Bi Ayi terlihat surealis. Setidaknya di mata saya.



“Si Bibi ini rutin dateng ke sini?” tanya saya pada Daud.
“Nggak tau, dia dateng sesukanya aja. Mau ditulis?” Daud balik bertanya.
“Nggak tau. Pengen aja gue foto-foto dan tanya-tanya.”

Meski memotret dan mengobrol dengan Bi Ayi murni terjadi karena dorongan spontanitas dan intuisi, pada akhirnya saya memang menuliskannya. Ia pun menjadi “bukan artis” di Salamatahari edisi 80 ini: “Membeli Mimpi”.

Saya tidak sempat bertanya secara gamblang apa yang Bi Ayi impikan dan akankah ia membelinya. Tetapi apakah perlu jika dia adalah mimpi itu sendiri?

Ia datang tiba-tiba. Singkat. Surealis. Menggelitik banyak hal di bawah alam sadar.

Sundea