Kaca

Kaca travel mengizinkan saya melihat senja di Jakarta, tapi tidak membiarkan saya bersentuh langsung dengan hangatnya. Karena ia mengepung dingin AC di dalam mobil, apa yang menyentuh saya bukanlah apa yang saya lihat. Saya merasa kedinginan. Padahal saya tahu suhu Jakarta sedang sehangat pantai.

Sore itu tahu-tahu kaca menjadi sesuatu yang menarik bagi saya. Ia melindungi, tetapi cukup fair untuk membeberkan kenyataan yang ada di hadapan saya. Di sisi lain, ia bening dan rapuh seperti anak-anak. Dengan kaca kita juga bisa bermain-main. Bayangan-bayangan yang ia pantulkan menghadiahkan kita persepsi-persepsi unik. Benda-benda yang melekat pada beningnya telihat seperti sedang terbang. Kaca memberi kita perlindungan dan ilusi-ilusi menyenangkan asal kita mengingat baik-baik pesan yang tertempel di permukaannya: “Dilarang Bersandar di Sepanjang Kaca”. 

Pada edisi ini Salamatahari menghadirkan cerita-cerita seputar kaca. Ada kacamata Ruben yang remuk dilindas motor, ada lagu “Gelas-gelas Kaca” di dalam angkot, ada foto yang diambil dari pantulan kaca, dan ada Blackmanray yang menjadi kaca serta menempelkan foto-foto pameran di permukaan kaca.

Karena dalam beberapa bahasa daerah “kaca” berarti “halaman buku”, saya akan menutup inti matahari kali ini dengan cuplikan lirik lagu “Jangan Bakar Buku” dari Efek Rumah Kaca,

… mengalir berjuta cahaya … ahhh … ahhh …
Karena setiap aksara membuka jendela dunia, aah … aahhh
Kata demi kata menghantarkan fantasi …

Semoga askara yang tersusun di halaman ini memberimu persepsi-persepsi berbeda.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea


Gelas-gelas Kaca

Pada suatu siang bolong, ketika Dago sedang panas dan jangar-jangarnya, angkot melolongkan sebuah lagu.

Sepi yang mencekam
Menuuusuk hatiku 

“Sepi apaan?” rutuk saya di dalam hati. “Gelas-gelas Kaca”, lagu cengeng yang populer di tahun80an, terdengar kontras dengan keadaan. Tembang bertempo lambat dan lemah tersebut mengacaukan ritme angkot yang terburu-buru dan tabrak sana-sini. Suara mbak penyanyi yang mendayu pun berpunggungan dengan suara mas supir angkot yang penuh vitalitas. Ada kepasrahan dalam lagu “Gelas-gelas Kaca”. Sementara ada kegigihan dalam ajakan bersemangat mas supir angkot. Tetapi pada keduanya ada hal yang sama: sebuah harapan yang dikemukakan secara transparan.



Saya jadi memperhatikan lirik “Gelas-gelas Kaca” ciptaan Rinto Harahap dengan saksama. Di sana, tersebutlah seorang aku lirik yang sebatang kara namun rindu pulang ke pangkuan ayah bundanya. Ia mencurahkan seluruh perasaan dan harapanya kepada gelas-gelas kaca. Dan gelas-gelas kaca – entah. Saya tidak tahu apakah gelas-gelas kaca itu merespon kegalauan yang menghambur dari kerongkongan mbak penyanyi.

Tetapi baru kali itu saya menyadari bahwa pilihan “gelas-gelas kaca” sebagai obyek ternyata menarik juga. Ada kebeningan dan kerapuhan di sana. Ada denting dengan frekuensi tinggi yang memekakkan telinga seperti lengking suara Mbak Nia Daniaty. Dan pada gelas-gelas kaca, si aku lirik seperti bercermin. Pada dasarnya gelas-gelas kaca mewakili karakter aku lirik yang rapuh dan ungkapan hatinya yang tidak tersembunyi.

Saya kembali kepada supir angkot yang berpeluh. Ia menatap jalanan dengan mata merah nanar. Menaruh harapan pada setiap orang yang lewat di sebelah angkotnya sambil berseru, “Dago, Dago, Dago, ayooo, langsung!” Ketika orang-orang yang ia harap menjadi penumpangnya ternyata berlalu begitu saja, matanya yang keruh tidak bisa menyembunyikan kekecewaan. Saya lalu melihat bahwa kerapuhan tidak selalu hadir dalam bentuk “gelas-gelas kaca”. Kadang ia mewujud pada kenyataan “jelas-jelas kagak” yang harus dihadapi para supir angkot setiap hari.

Suara Mbak Nia Daniaty masih menyayat-nyayat siang yang sebetulnya sudah bolong,

Gelas-gelas kaca, bunyikan suara
Di maaaanakah aku kini …?

Bunyi suara klakson timpa menimpa, berusaha mengusir angkot saya yang sedang ngetem sembarangan. Awalnya supir angkot pura-pura tidak mendengar. Namun akhirnya ia mengalah dan melaju.

Di dalam hati saya jadi bertanya-tanya sendiri. Jika ruang memaknai dirinya lebih luas daripada yang bisa digambarkan peta, di mana saya sebetulnya?

Saya memotret sudut angkot yang saya tumpangi. Tanpa banyak berpikir. Hanya merasa. 

Sundea


Berhubung videoklip "Gelas-gelas Kaca" selalu gagal diunggah di posting ini, silakan berkunjung ke sini untuk menyanyi sambil berkaraoke lagu ini.

Bermain dengan Kaca

Dilarang Bersandar di Sepanjang Kaca!





Mendengarkan lagu lewat getaran di kaca


Ini pantulan dari jendela. Tanpa editan apa-apa


bayanginielektrokardiogram
Elektrokardiogram. Kalau kabelnya nggak merentang lurus, kita masih hidup


menandaiharini
Selamat hari ini, lampu di atas meja memilih sendiri angkanya =D


Sundea

Blackmanray – In Everything You Say*

 -Kedai Bahagia, Selasa, 12 Juli 2011-
Blackmanray
“Are we believing black man ray
Are we not happy
In our own way …”*

… dan di tepi jalan gelap dan sepi Cibogo, sebuah kedai kecil berbahagia dengan caranya sendiri. Pada dinding kedai yang sebagiannya adalah cermin, tertempel foto-foto hitam-putih Dani Subagja. Sebuah pameran foto, “Places”, digelar di sana mulai 28 Juni 2011 – 31 Juli 2011. “Ini foto jalan-jalan Dani Subagja. Dia orang Indonesia yang tinggal di Hongkong. Untuk pameran ini, Dani kita suruh pilih foto yang paling berkesan buat dia sendiri, edit sendiri, kasih judul sendiri, terus kirim ke sini,” papar Eric Setiawan, salah satu motor Blackmanray.




… dan Blackmanray adalah sebuah passion fotografi amorfus yang sedang menggeliat mencari wujud. Berawal dari keisengan Eric mengumpulkan foto yang ia sukai dari teman-temannya, berlanjut dengan pameran Yamasaki Ko-Ji yang hasil penjualannya kemudian didonasikan untuk korban gempa di Jepang, hingga saat ini Blackmanray setiap bulan secara reguler menggelar pameran kecil-kecilan di Kedai Bahagia milik Budi Sukmana, motor Blackmanray yang lainnya. Pameran Dani adalah pameran yang ke tiga. “Kita punya rencana nambah-nambah program, misalnya workshop, tapi basic-nya tetep nggak formal dan personal,” kata Eric lagi.


Setelah mengalir semenjak awal tahun 2011 ini, karakter Blackmanray mulai terlihat. Foto-foto yang dipilih adalah foto-foto yang cenderung bersifat personal dan bercerita tentang keseharian; tanpa beban dan “pesan sponsor”. Fotografer yang berbagi cerita pun berangkat dari beragam latar belakang. Mulai dari resepsionis, ibu rumah tangga, penyablon, hingga yang misterius sama sekali. Ketanpabebanan ini kemudian menghasilkan foto-foto yang menyentuh kita langsung ke hati. Coba, deh, mampir sendiri ke http://blackmanray.com/ untuk membuktikan.


Melalui foto-foto personal dan hangat yang dikumpulkan Blackmanray, kita seperti langsung berdiri di depan jendela pemotretnya. Kita dapat mengenali mereka dari posisi yang nyaris tanpa jarak. Membaca keseharian mereka sebagai seorang teman. Foto-foto yang dipamerkan pun saling membaca dan dibaca karena dipasang berhadap-hadapan pada bidang yang bercermin dan yang tak.


Jika kamu mempunyai foto-foto essay atau sekedar ingin berbagi cerita dengan teman-teman Blackmanray, mampir saja ke Kedai Bahagia di Micasa Living, Jln. Cibogo Kios No.7, Bandung, Indonesia. Sambil minum kopi dan makan-makanan hangat, kamu akan terbungkus dalam obrolan hangat yang menghangatkan hatimu juga.

“… and we the people
who answers you why forever doubt …”*

Sundea


*dipinjam dari lirik lagu “Black Man Ray” – China Crisis

Nuhun pisan buat Ko Eric Setiawan dan Mas Henrycus Napit Sunargo buat ngobrol-ngobrolnya yang menyenangkan =D

Kacamata Ruben



Kacamata Ruben, sepupu Dea, kelindes motor. Pas dia naek mobil, nggak sengaja tangannya ngedorong kacamatanya sampe mental keluar. Abis itu … NGEEEENG … tau-tau ada motor lewat, ngelindes si kacamata.

Pas Ruben mau turun untuk ngambil, ada motor lewat lagi. NGEEEENG … kelindeslah si kacamata untuk yang ke dua kalinya. Sesudah itu Ruben nyerah. Dia pergi ninggalin kacamatanya di jalan.



Denger cerita Ruben, Dea jadi sedih sendiri. Dea bisa mbayangin kagetnya si kacamata waktu tau2 kepental keluar. Sambil nggeletak kebingungan, mereka pasti minta tolong ke Ruben. Tapi sebelom Ruben sempet mungut mereka, motor lewat duluan dan …. JLESS … kelindeslah si kacamata.

Abis kelindes yang pertama, mereka pasti panik dan tereak tambah keras, “TOLOOONG … TOLOOONG …”. Sayangnya, Ruben keduluan lagi. Sesudah itu Ruben pergi. Dea yakin si kacamata kecewa dan ngerasa ditinggalin banget. Remuknya pasti di luar dan di dalem.

Dea ngerti kalo Ruben nggak mungkin nerjang jalan raya untuk nyelamatin kacamatanya. Tapi apa Si Kacamata ngerti itu, ya? Kata Ruben, pas Ruben lewat jalan itu lagi, Si Kacamata udah nggak ada. Artinya, Ruben nggak sempet ngejelasin ke kacamata kalau sebenernya dia nggak pernah bermaksud ninggalin Si Kacamata begitu aja.

Dea tau-tau kepengen nangis. Iya, kepengen nangis.

Karena ini tentang kacamata, mata pasti yang paling ngerti …

Sundea