Rahim

 

Di dalam rahim, sesuatu yang maha kecil dan tanpa daya dijaga dan dipelihara. Rasa aman dan keleluasaan untuk dicintai tanpa harus membayar apa-apa, membuat si maha kecil dan tanpa daya ini tumbuh menjadi makhluk hidup yang utuh.

Pada waktunya, rahim akan menyerahkan manusia kecil ini kepada dunia. Ia akan tumbuh semakin besar dan berkenalan dengan hidup yang menuntutnya dengan berbagai syarat. Tetapi “rahim” yang berarti “sayang” tak pernah sepenuhnya meninggalkan. Setiap manusia lahir dari “sayang” karenanya berhakikat sebagai “sayang”. Kemurniannya memiliki dorongan untuk menjaga dan memelihara tanpa mendominasi dengan kekuasaan.

Minggu ini Salamatahari menghadirkan posting-posting seputar “rahim”. Ada Supercuts Online Radio yang dipelihara hingga berusia satu tahun, seorang pemuda bernama Ricky Rachim Putra, Kebijaksanaan Bunda Bumi dalam album “Grace Tesla”, dan kisah kecil mengenai Ayah Beruang dan sungai kecil di perut Anak Beruang.

Setiap hari umat Islam mengucap kalimat Bismillah nirahman nirahim dalam doanya.

Saya percaya esensi doa tersebut terlalu bebas untuk dikurung di dalam kotak. Ia adalah janji perdamaian yang universal sifatnya …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

Untuk Kay dan Natnat, sepupu Dea yang rahimnya sedang menjadi jagat raya =)

model sampul: Ayah (Ricky Arnold)

(Bukan) Liputan Pesta Ulangtahun?

-Beat n Bite, Minggu, 20 Februari 2011-

Ulangtahun Supercuts Online Radio




Pada suatu siang yang cemerlang, saya datang ke Beat n Bite, sebuah kafe di Jalan Ambon, untuk menghadiri Tea Party, ulangtahun pertama Supercuts Online Radio. Balita yang dipelihara penuh sayang oleh teman-teman Supercuts ini tampak sedang lucu-lucunya. Ia berkembang bersama passion yang menyala-nyala untuk mengenal dunia penyiaran.

Tetapi pada siang yang cemerlang itu, Beat n Bite lengang. Tidak ada tetamu, dan tidak ada musik-musik yang meriah. Yang datang hanya sayup lagu Muse dari meja kasir, sinar matahari yang kehabisan tempat di luar sana, angin yang meniupi tirai, serta senyum dari bola kuning paling manis yang pernah saya kenal.  Saya mulai mencurigai kesepian tak wajar itu. Jadi saya segera melayangkan sms kepada Dilla Anbar sang panitia. Tak lama kemudian, telpon saya berbunyi.




“Mbak Deaaa … maaaaaf … acaranya diundur …”
“Yaah … kenapa nggak bilang?”
“Iya, mendadak banget …”

Seusai telpon-menelpon itu, saya memotret-motret beberapa detail di Beat n Bite. Akhirnya saya tersenyum saja. Saya tetap merasakan kesenangan yang tumbuh di sana; dari sinar matahari, dari angin yang berkunjung, dan dari si bola kuning.  Ulangtahun anak-anak selalu punya cara sendiri untuk menjadi raya. Ia selalu dapat menghadiahi dirinya dengan yang baik-baik.


 

Usai memotret-motret, saya dan Jeng Theo, teman yang datang bersama saya, memutuskan untuk pulang. Ternyata hari itu, di luar Beat n Bite, berbagai kejutan dan kesenangan menyertai kami. Saya percaya ada sihir ulangtahun yang mengikuti ;)

Teman-teman, perayaan ulangtahun Supercuts Online: Tea Party tetap akan dilangsungkan. Ingin hadir? Catat tempat dan waktunya:

Sabtu, 26 Februari 2011
Tempat: S28, Jln. Sulanjana no. 28.
Waktu: pukul 16.00 sampai selesai.

***

“Eh, Dil, sebenernya Supercuts Online Radio itu lahirnya kapan, sih?”
“Sebenernya, sih, kita masih burem-burem tanggal berapa, katanya mah tanggal 25 Mbak De …”

TAK JEDES!

Anyway, selamat ulangtahun, ya, Supercuts Online Radio, semoga kalian tumbuh menjadi media yang memberkati … =)

Sundea

Sungai Kecil di Perut Anak Beruang

“There’s a river in my dreams, flowing endlessly to you …”
-River in my Dreams, Incognito-


Ada sungai kecil di perut Anak Beruang. Airnya bening dan tidak dalam. Siapapun dapat melihat ikan dan batu-batu di bawah permukaannya. Dasarnya pun dapat disentuh dengan telapak kaki. Sungai kecil di perut Anak Beruang tak pernah gelap, sebab matahati yang seperti matahari tak pernah lelah menyinarinya. 




Ada sungai kecil di perut Anak Beruang. Setiap hari ia mengalir tanpa khawatir, mengalur menuturi alur yang menuntunnya tanpa catatan. Ke manapun sungai itu melintas, Anak Beruang tak pernah ragu. Ia percaya kearifan semesta selalu membawa sungai kecil di perutnya ke tempat-tempat yang seharusnya.

Pagi ini sungai kecil di perut Anak Beruang melintasi kaki gunung. Anak Beruang merasa senang ketika Ibu Pemetik Teh bercermin dan mencuci tangan sambil menyenandungkan lagu teduh bernotasi “da mi na ti la da”. Suara Sang Ibu liris seperti bau daun teh yang merebak dari keranjangnya. Anak Beruang ingin ikut menyanyi. Tetapi ia hanya bisa menggeram. Maka ia memilih diam saja mendengarkan. 


Selanjutnya, sungai kecil di perut Anak Beruang mengalir ke padang rumput. Sekawanan domba yang digiring anak gembala mengerumuninya, meminum air dengan tergesa karena kehausan. Anak Beruang merasa geli. Ia terkikik sendiri karena perutnya seperti digelitiki. 


Sungai kecil di perut Anak Beruang mengalir dan mengalir gembira. Ia menyapa batu kali, bermain dengan kupu-kupu, dan berlari mengejar lebah yang terbang-terbang sambil berdengung. Hingga tak terasa, sungai kecil di perut Anak Beruang sampai ke dalam rimba yang mencekam. Di sana gemericiknya jadi bergema seperti suara raksasa.


Anak Beruang tak menyukai bagian ini. Tapi ia membiarkan sungai kecil di perutnya melintasi rimba tersebut. “Jangan khawatir, kearifan semesta membawamu ke tempat-tempat yang seharusnya,” kata Anak Beruang sambil mengusap-usap perutnya sendiri.

Sungai kecil di perut Anak Beruang mengalir diam-diam; melewati harimau yang mengincar anak kelinci, melewati gadis muda yang duduk sendirian di atas atas pohon. Di antara semak, seorang pria mengintai membawa senapan. Ketika seekor rusa datang melompat-lompat untuk minum air di sungai kecil …. DOR !!!!

Sekejap saja darah rusa hanyut terbawa air sungai. Sungai kecil di perut Anak Beruang tak lagi bening. Anak Beruang menangis ketakutan, tapi tak sedikit pun kehilangan keyakinan pada alur yang menuntunnya tanpa catatan. “Jangan berhenti mengalir, sungai kecil, jangan berhenti,” pesan Anak Beruang sambil mengusap-usap perutnya yang gelisah.

Didayung waktu dan ditemani matahati, sungai kecil di perut Anak Beruang terus mengalir dan mengalir. Lalu malam mengistirahatkannya di suatu tempat yang tentram dan aman.


Ada laut besar di perut Ayah Beruang. Airnya biru dan sangat dalam. Butuh keahlian dan peralatan khusus untuk menyentuh dasarnya. Dan butuh keberanian untuk mengarunginya. Tetapi sungai kecil di perut Anak Beruang tak pernah takut pada laut besar. Ia tahu laut besar akan merengkuh dan memperkenalkannya kepada asin. Menjaganya dari perasaan tak aman. Membersihkannya dari segala yang terbawa oleh alir perjalanan.

Laut besar di perut Ayah Beruang berhati bulan purnama. 


Ia tidak mengalir ke mana-mana karena tahu sungai kecil di perut Anak Beruang akan berenang menemuinya …


To papa with lots of love and gratitude =)

Sundea

Ricky Rahim Putra dan Rahim-rahim Lainnya

rachimfoto Alasan Ricky Rahim Putra diminta menjadi penyalamatahari minggu ini adalah namanya yang matching dengan tema Salamatahari. Di edisi “Rahim”, lahirlah obrolan-obrolan seru seputar pengertian “rahim”; bukan sekedar sebagai nama, tetapi juga …

Ah, baca saja, deh …

Ok. Nama lo kan Rachim, ya. Lo tau, nggak kenapa lo dinamain begitu?
Nama panjang gua “Ricky Rahim Putra”. Nah, dari situ bisa dikira-kira kenapa gua dikasih nama seperti itu. Kalo menurut gua, artinya Si Ricky yang keluar dari Rahim ibunya yang berjenis kelamin Putra, hahahaha … jadi rancu sendiri gua sama kalimat “yang keluar dari Rahim ibunya yang berjenis kelamin Putra”. Sebenarnya artinya Rahim itu kan penyayang, jadinya gitu kali, semoga gua punya sifat penyayang kepada setiap putra? Hahahaha rancu lagi… 



Nguuukkss ….
Sebentar, ya, gua tanya Si Mama * pergi bertanya*. Menurut si mama arti nama gua, mulai dari Ricky, artinya agak sama dengan Rizki. Rahim itu sifat keillahian yang artinya penyayang, nah Putra itu bisa diartikan secara harfiah. Kalo digabung artinya “seorang Putra atau Pria yang selalu menyayangi dan memberikan rezeki kepada kehidupan”. Yah gitu lah kira-kira arti nama gua, gua bagus-bagusin dikit biar keren dibacanya hehehehe….

Hahaha … masih aja lo narsisnya nggak ilang. Sekarang menurut lo sendiri, rahim itu apa, sih?
Rahim itu nama tengah gua, tanpa Rahim ga akan ada “Ricky Rahim Putra”, jadinya “Ricky Putra”.

Nyeeeh … yang laen. Di luar kata rahim sebagai nama situ.
Hehehehe… rahim itu kalo di istilah kedokteran artinya :

“Rahim atau uterus adalah organ reproduksi betina yang utama pada kebanyakan mamalia, termasuk manusia. Salah satu ujungnya adalah serviks, membuka ke dalam vagina, dan ujung satunya yang lebih luas, yang dianggap badan rahim, disambung di kedua pihak dengan tabung Fallopian. Rahim terdapat dalam berbagai bentuk dan ukuran di organisme yang berbeda. Pada manusia adalah berbentuk buah pir. Beberapa organisme seperti kelinci, kambing dan kuda mempunyai rahim bipartite atau "bertanduk". Rahim ditempatkan di pelvis dan dorsal (dan biasanya agak kranial) ke kandung kemih dan ventral ke rektum. Rahim ditahan pada tempatnya oleh beberapa ligamen. Di luar kehamilan, ukuran garis tengahnya adalah beberapa sentimeter. Rahim kebanyakan terdiri dari otot. Lapisan permanen jaringan itu yang paling dalam disebut endometrium. Pada kebanyakan mamalia, termasuk manusia, endometrium membuat lapisan pada waktu-waktu tertentu yang, jika tak ada kehamilan terjadi, dilepaskan atau menyerap kembali.”via Wikipedia.

Nah kalo baca definisi dari wikipedia kan kepanjangan dan terlalu ribet untuk dibayangkan. Kita singkat aja Rahim itu tempat calon bakal manusia berenang-renang dan bermain di dalam perut seorang Ibu. Atau bisa juga kalo dari definisi bahasa Arab artinya yaitu tadi, sifat yang dimiliki illahi yang artinya Maha Penyayang. Sini mari…siapa yang mau Abang sayang…???

Kalo Abang-abangnya kayak elo mah siapa yang maooo … hahaha … eh, tapi ada juga kali, ding. Ngomong-ngomong soal sayang, ya, situ katanya kan punya RM Padang, ya? Sesayang apa, sih, lo sama RM Padang lo?
Nah ini dia, awalnya gua sangat sayang pada Rumah Makan Padang gua, setiap subuh gua masakin makanan yang berlemak, pagi-pagi gua bersihin badannya, gua tungguin sepanjang siang sampe sore, tapi dia ternyata ga sesayang seperti sayangnya gua, sampai akhirnya dia tega meninggalkan gua begitu saja dan berubah menjadi warung minuman (alias udah bangkrut dan tutup hehehehe….). Gua masih suka sedih kalo inget-inget dia lagi, hiks…hiks…hiks…(biar dramatis sinetronis….).

Ya ampun, gue bahkan belum sempet berkunjung. Turut berduka, ya. Hmmm … kalo gitu mungkin peruntungan lo di musik. Lu kan musisi, tuh, bikin lagu, main gitar, main bas, rada main piano juga, punya band warm-rock-love yang namanya KarnaTra… sesayang apa, sih, lo sama musik?
Bagaikan oksigen buat gua, bagaikan sayur tanpa garam kalo kata Mbak Inul, heheehh. Musik itu salah satu pasangan hidup gua yang wujudnya hanya bisa dirasain oleh telinga dan hati gua. Dia pengertian banget, tau bagaimana merasakan apa yang gua rasa, pokoknya musik itu salah satu pasangan hidup yang paling sempurna dan mengerti gua seutuhnya, nanti kalo gua udah nentuin tanggal yang baik sama si musik, salamatahari pasti gua undang, hehehehe….

Asiiik. Terus, sebagai wujud cinta lo, apa yang udah lo lakuin buat musik?
Kalo hal yang udah gua lakuin untuk musik … apaan ya… hmmmmm sejauh ini gua udah berusaha untuk setia sama dia walaupun ada pekerjaan yang lainnya. Di setiap saat, gua selalu berusaha untuk menyanyikan dia, mendengarkan dia, mengimajinasikan dia, dan mengkreasikan dia menjadi simfoni yang menyenangkan buat gua pribadi. Sukur-sukur orang lain bisa nikmatin juga, jadi bisa bersama-sama.

Romantis sekali, Chim. Beda banget perjalanan cinta lo sama musik dan RM Padang tadi … hahaha … Nah, ngomong-ngomong soal rahim, rahim kan pastinya berhubungan sama melahirkan dan memelihara. Sebagai seorang Ricky “Rachim”, nih, apa yang udah lo lahirkan dan pelihara?
Yang udah gua pelihara : segerombolan ikan hias, satu kucing, tiga kelinci dan tiga wanita (bukan wanita simpanan, tiga wanita ini yang satu Ibu saya, satu lagi kakak perempuan, satu lagi keponakan gua yang beberapa tahun lagi beranjak menjadi seorang wanita. Ketiga-tiganya selalu saya pelihara dengan kasih sayang buat mereka. Kan gua Ricky si penyayang). Sekarang ini gua lagi memelihara kasih sayang untuk orang-orang yang berarti buat kehidupan gua,semoga mereka selalu berbahagia. Kalo untuk melahirkan gua belum punya pengalaman dengan hal yang istimewa tersebut, karena ga setiap orang bisa melahirkan. Hanya manusia – manusia pilihan yang bisa melahirkan. Kalo melahirkan di luar konteks proses reproduksi makhluk hidup, gua udah melahirkan beberapa anak yang berbentuk bunyi – bunyian dan jalinan aksara, salah satunya tulisan ini, hehehehe…..yang akan gua kasi nama “Mama Riri” atau “Mama Yukero” yak..?

Ey? Mama Riri dan Mama Yukero? Sungguh absurd adanya. Ok. Terakhir. Ini balik lagi ke konteks reproduksi itu tadi. Kalau perempuan punya rahim, laki-laki punya apa yang setara sama rahim?
Laki-laki punya organ yang membuat rahim berfungsi dengan sempurna, hahahahaha…apa ya, menurut gua, sulit juga cari perbandingan yang setara untuk keluarbiasaan dan keistimewaan dari rahim karena gua sampe sekarang masih takjub sama proses melahirkan manusia. Gua lebih ngeliat dari proses gimana pengorbanan dan perjuangan seorang ibu demi anaknya untuk bisa merasakan warna-warni kehidupan di luar rahimnya, jadinya gua gatau apa yang setara dengan hal itu. Mungkin, yang harus dimiliki laki-laki untuk menyaingi kedahsyatan rahim perempuan, ya punya rahim juga. Tapi dalam artian Bahasa Arabnya (kasih sayang). Laki-laki harus punya sifat kerahiman yang besar untuk para wanita yang sudah mempercayakan rahimnya buat laki-laki pilihannya. Rahimilah para perempuan dan peliharalah terus selalu rasa kerahiman, kalo bisa sampe kita kembali ke pangkuan yang Maha Rahim. Itulah sekalis takziah dari Ustad Rachim Al-Asoy,hehehehe….

Alhamdulillah Subhahanallah. Nice one, Chim … semoga lo juga bisa jadi laki-laki yang punya “rahim” sesuai nama lo yaaa …

Setelah selesai menulis wawancara ini, saya baru tersadar. Meski sebagai kata benda “rahim” adalah organ tubuh yang mutlak dimiliki perempuan, sebagai nama, “rahim” lebih banyak digunakan untuk nama laki-laki.

Rasa sayang itu universal. Secara natural, perannya selalu terbagi secara adil …

Sundea

Ibu


cover-grace-teslacopy Ibu adalah pangkal kehidupan. Kasih sayang, misteri, dan pesona berbaur dalam citranya.

Istilah "anima" yang merujuk pada "dunia roh" berasal dari kata an (surga) dan mum (ibu). Roh mewakili bagian intuitif dari pikiran dan pengalaman, karenanya, para alkemis percaya bahwa setiap roh adalah perempuan.

Bumi adalah pangkal kehidupan. Kasih sayang, misteri, dan pesona pun berbaur dalam citranya. Mungkin dari sanalah istilah semacam "Mother Earth" atau "Ibu Pertiwi" lahir. Pada album "Grace Tesla" yang bahkan dianggap absurt oleh musisinya sendiri, Tesla Manaf Effendi dan Grace Sahertian, saya menemukan nyanyian bunda bumi. Inilah laporan perjalanan saya menutur nyanyian "Mother Earth" bersama empat lagu di album "Grace Tesla".



"Deru" membawa saya ke laut. Vokal ganjil dan gamang yang dibayangi lengking biola mengalun dengan ketukan tidak tetap. Ia adalah ombak malam hari yang bergulung-gulung, berusaha menancap di pantai. Di sana ada kepedihan, kesedihan, amarah, obsesi, dan ambisi.

"Kamu tidak bisa menancap di pasir, Ombak," ujar saya sambil mundur selangkah, "Kamu hanya bisa meninggalkan jejak dan sedikit diserap ..."

Ombak terus menderu dan mendera. Hingga pada sebuah titik, ia tiba-tiba berhenti. Buihnya luruh, menjelma menjadi bening yang hening. Pekik camar membelah suara angin. Vokal ganjil dan gamang berganti dengan nada-nada yang lebih teduh, ketukan yang lebih lamban, namun teratur. Saya tahu saat itu segala gejolak telah redam dalam satu kata: berterima.

Air laut mencapai tepi pantai dengan santun. Saya menyentuhkan telapak kaki saya di permukaannya kemudian berlayar dengan kisah berikutnya.

"Intervention" adalah sebuah perjalanan panjang bersampan menuju daratan. Alunnya yang perlahan membuat saya utuh merasakan angin, mencium bau laut, mencermati bintang, serta mengenali takut dan berani yang berbagi ruang dalam diri saya. Di sela suasana kontempelatif itu, bunda bumi berbisik, "Jangan khawatir, Dea, sepanjang dan sejauh apapun perjalananmu, aku selalu campur tangan. Kamu tidak akan hilang..."

Saya pun lelap dan berserah.

Sampan membentur daratan. Saya terjaga. "Selamat pagi, selamat datang di pulau ‘Dear Mom'," sapa bunda bumi. Matahari belum tinggi, namun cahaya mudanya menyinari pulau berpasir hitam-putih di hadapan saya.
"Dear Mom" adalah pulau yang kompleks dan kaya. Berbagai tanaman bersemi di sana; mulai dari indah, sampai yang buruk. Yang sehat, sampai yang beracun. Hewan jinak dan liar pun berlalu lalang di mana-mana. Teduh dan terik memiliki tempatnya masing-masing. Perlindungan dan hukuman diikat oleh sebuah benang merah: harmoni.

Saya naik ke atas pohon, mengamati pulau tersebut dari sebuah jarak.

Di sela-sela ketenangan, insting saya halus memperingatkan adanya bahaya. "Apa ini?" gumam saya. Tiba-tiba bulu kuduk saya berdiri tajam. Degup jantung saya menghantam. Sesuatu yang magis membuat saya beku. Sebelum saya sempat menoleh... ssshpppzzzzt...

Leher saya terpagut ular. Ini adalah "The Coincidence Fever". Bahaya menyergap cepat, namun waktu berjalan lambat ketika bisa ular merambat dalam darah.

*gelap gulita*

Sundea

Teman-teman, buat kisah petualanganmu sendiri dengan album "Grace Tesla". Segera pesan album ajaib ini kepada Debolitta di 0818203757.

Untuk info lebih lengkap, kunjungi www.soundcloud.com/tesla-manaf-effendi