A Reflection’s Canticle


“God has her own reality. She makes an outline on my unreality”


I am a reflection of god. Light above me and surface of the pond gave me a chance to exist. I followed god wherever she moved. 

There were times when gravels thrown to the pond and made some ripples. But I was never afraid. They wouldn’t make me sink. Precisely, the gravels would.


Sometimes fish and leaves swam across me. They messed my image up, but I never worried. Surface of the pond would make a deal with gravity. I would be ok. Otherwise, as a reflection, I know that I was untouchable.

I know god always taking care of herself, so her reflection would be taken care as well. I followed her wherever she moved. I stick to her like her conjoined twin mate. One day, she whispered to me,

“If your being is empty like a hole, I’ll make it as a whole …”

Sundea

Outline


Di luar bentuk yang mudah terdistraksi, berjaga outline. Ia adalah humas yang menghubungkan kita dengan persepsi. Guratan diplomatis yang tahu cara mendisplin, mengeluarkan potensi terbaik dari bentuk, lalu mengantarkannya kepada dunia. Outline adalah pemeran penting yang tahu betul proporsinya. 

Minggu ini outline menggaris pada posting-posting www.salamatahari.com. Ia hadir pada tuhan kresek yang bersentuh dengan refleksinya, pada Markus Benyamin Diredja sang inker dan dosen, pada lagu Hey Nadia yang menjadi outline untuk nada-nada, dan pada gambar Anak Beruang yang terbit pertama kali di www.salamatahari.com edisi 56 ini. 

Outline tekun menyusur bentuk tanpa berusaha merebut sorot lampu. Dia tahu bahwa sesungguhnya dia sendiri befungsi menerangi seperti lampu.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea

At Least ‘til the Inking, Markus Benyamin Diredja

 
Ada cuplikan lagu Michael Franks, In the Yellow House, yang mengingatkan Sundea kepada salah satu teman terbaiknya, Markus Benyamin Diredja : “painter, brother, friend, at least ‘til the inking…”.

Pria tinggi-besar yang lahir di awal Mei 1980 ini adalah seorang dosen Seni Rupa, ilustrator, dan komikus. Jatuh cinta pada tanggung jawab inking, baik secara harfiah maupun metaforik. Sambil menunggu istri Markus, Eka, yang sedang bekerja, Dea menanggap Markus untuk mengobrol seputar inking dan outline. 






Baiklah, Kus. Karena Salamatahari minggu ini temanya “Outline”, menurut lo, outline itu apa?
Menurut gua … outline itu garis luar. Outline itu sesuatu yang penting. Gua selalu bilang sama mahasiswa gua kalau bikin outline, tuh, seperti mengukir. Outline bisa tebel, bisa tipis. Prinsipnya ngasih kejelasan bentuk, aja. Bahkan waktu gambar kita masih item-putih, kualitas gambar terepresentasikan dari outline-nya. Tapi itu pewahyuan gua, ya, tiap orang kan beda-beda. Ada juga yang outline-nya berantakan, tapi gambarnya bagus. Atau sebaliknya, outline-nya rapi, tapi gambarnya kaku. Seni kan luas banget. Lagi pula seni bisa diliat dari sense-nya, bisa juga dari tekniknya. Tetep yang paling baik yang seimbang. Dan gua yakin tiap orang pasti lagi nyari titik semibangnya sendiri-sendiri, secuek apapun mereka.

Ok. Di luar gambar-menggambar, outline itu apa menurut lo?
Batesan. People need boundaries. Tanpa batesan, kebebasan itu malah jadi chaos. Orang yang nggak punya batesan justru jadi nggak punya achievement untuk menginspirasi orang. Ujung-ujungnya, ultimate di freedom itu butuh batesan.

Terus, apa batesan lo sendiri?
Ya … kalo gua pribadi, sih … Tuhan.

Kresek, dong?
Hahahaha … itu kan elo. Batesan yang ke dua adalah hati nurani. Soalnya kadang kalau kita cuma mikir ke arah Tuhan, kita malah jadi jahat. Hati ngingetin gua kalo gua masih manusia dan orang di sekitar gua juga masih manusia. Nggak mungkin gua ngarepin ada kesempurnaan Tuhan di dunia ini.

Hmmm … bener juga, ya. Nah, sekarang soal inking. Inking itu sama, nggak, sama bikin outline?
Beririsan. Banyak orang yang outline-nya pakai pinsil. Inking itu untuk mempertegas lagi.

Apa yang istimewa dari inking?
Secara konsep, inking itu permanen. Kalaupun mau dihapus, harus pakai cat atau tip-ex. Tapi udah gitu tekstur kertasnya ga akan sama lagi.

Kalau digital?
Kalau digital, sih, nggak ngaruh. Tapi buat gua, yang namanya “inking” berarti manual. Nah. Justru di dunia manual inilah gua belajar banyak.

Wow. Seru kayaknya. Belajar apa aja?
Gua seneng memberikan bentuk tegas pada orang, makanya gua jadi dosen. Kalau yang gua inking gambar orang lain, gua jadi belajar untuk liat karakter dan cara gambar orang. Tiap nge-inking, gua nggak pengen karakter mereka ilang. Gua cuma pengen negesin bentuknya mereka meskipun cara gambar gua beda sama cara gambar mereka. Gua seneng pas orang-orang ngeliat gambarnya dan bilang, “Wah ternyata kalo di-inking gambar gua jadi gini, ya …”. Di inking gua juga belajar ngambil keputusan. Gimana juga, meskipun nggak dengan maksain cara gua, keputusan tegas emang harus diambil.

Jadi filosofis, nih. Ngomong-ngomong, lo pernah salah inking, nggak, Kus?
Pernah. Tapi setelah bikin keputusan salah, kita harus deal with it atau ngebentuk yang salah itu jadi sesuatu yang lain. Nggak bisa ditiadakan.

Gimana rasanya salah inking?
Tegang-tegang menyenangkan karena gua jadi musti super kreatif. Kalau itu di gambar orang lain, biasanya kesalahannya misalnya garisnya ketebelan. Tapi kalo gua bikinnya rapi, orang nggak notice, kok.


Hyaaa … tapi sekarang kan gua jadi notice dan tau. Btw, gimana dengan profesi inker?
Di luar negeri ada. Tapi di Indonesia suka dianggap nggak bermanfaat. Padahal kalo ada yang mau nyari inker, gua mau, lho. Gua suka banget inking. I love inking!

Semoga ada pembaca Salamatahari yang cari inker, deh, Kus … hehehe … terakhir, nih Kalau hubungannya sama idup, lo lagi inking apa di idup lo?
Yang berasa banget … mungkin gua lagi ink family. Gua kan baru married sama Eka. Terus yang berasa lagi, gua lagi ink generasi di bawah gua dengan jadi dosen. Dan gua juga mau nge-ink perkomikan Indonesia.

Asoy! Semoga sukses, Pak Dosen … Dosen Really Matter … hehehe …
Bagian kecil lain dari lagu In the Yellow House terngiang di telinga Dea, “You always help me when you could, you did your best, at least you’ve tried …”.

Selama berteman dengan Markus enam tahun terakhir, ada cukup banyak garis tegas yang ditorehkan Markus pada Dea. Melalui Markus, Dea banyak belajar mengenali bentuk dan merapikan garis serabutan yang seringkali Dea tarik secara intuitf.

Semoga melalui posting ini, Dea dapat ganti menorehkan garis tegas pada Markus: Percaya, deh, Kus, latihan setiap hari membuat kamu bisa meng-ink apa saja, termasuk keluarga, generasi di bawahmu, dan dunia perkomikan Indonesia ;)

Sundea

Hey Nad(i)a !


Nadia adalah satu komposisi di antara seribu juta komposisi nada yang saling bersinggungan. Jika kamu tak cukup teliti merunut pola yang menjalin Nadia, kamu akan tersesat di keentahan. Jatuh cinta adalah pelacak jejak terbaik yang pernah ada. Dan teman saya Inclusio yang jatuh cinta pada Nadia mampu merunut Nadia tanpa tersesat. 

Pada suatu sore yang cerah, Inclusio datang ke rumah saya membawa peta komposisi nada. Dengan riang ia menunjuk sebuah bagian yang sudah ditorehi outline, “Ini Nadia. Hey Nadia!” 



Nadia adalah gadis yang renyah dan manis seperti biskuit susu. Pesonanya membuat teman saya jadi meletup-letup sekaligus santai menenangkan; poppin’ and jazzin’. Aura kasmaran memancar dari dirinya seperti limpahan cerah matahari sore itu.

Telusuran Hey Nadia dimulai dengan kord-kord mayor dan penegasan vokal dengan backing vocal pada kata-kata yang sangat jatuh cintais adanya seperti “I really love you.” Namun ketika memasuki refrain, ada sedikit pergeseran melodi dan running chord. Melodi yang tadinya mundar-mandir di seputar nada-nada yang mudah dijangkau tiba-tiba merentang ke atas dan menuntut effort bernyanyi yang lebih kuat. Kord yang pada dasarnya berurut di seputar C – F -G- Em – Am – Dm – G membangun nuansa dramatis yang konvensional. Saya pasang telinga, mencoba menangkap kata-kata yang dicurhatkan Inclusio lewat reff Hey Nadia

“Hey Nadia, would you keep my heart if you might
‘cause you are the one who fill my heart
But it’s ok, if you don’t want …”

“It’s ok if you don’t want?” tanya saya.

“Iya,” sahut Inclusio yakin.

“Hmmm … iya, sih, cinta ditolak memang resiko, tapi … se-release apa kamu?”

“Aku rasa outline yang kubuat cukup menjelaskan, deh…”

Maka saya kembali mengamati peta komposisi nada yang dibawa Inclusio. Outline yang dibuat Inclusio, Hey Nadia, terlihat selentur karet dan tak terikat menjadi simpul mati. Ia adalah sebuah lagu yang mewujudkan sebuah cinta tanpa syarat kepada Nad(i)a. Ia tahu Nad(i)a tak bisa dikurung. Tetapi, karena hanya “you are the one who fill my heart” , outline-lah yang mengalah. Ia yang akan dengan fleksibel mengikuti alir Nad(i)a yang pop jazz dan terbuka untuk berbagai improvisasi ini. Menjaganya agar tak hilang di keentahan. Membuatnya selalu terpelihara dalam sebuah bentuk. Menjadikannya istimewa dan bersinar di antara seribu juta komposisi nada yang bersinggungan dengannya. Saya jadi terharu. Inclusio dan Hey Nadia-nya ini ternyata romantis sekali.

“Sudah, ah, curhatnya,” ujar Inclusio sambil melipat petanya. Ia terlihat agak malu karena terlalu berbunga-bunga, “aku pulang dulu, ya, Dea. Kapan-kapan kita ngobrol lagi …”

Saya mengamati punggung Inclusio. Juga peta besar yang diapit di ketiaknya. Ada bagian diri Nad(i)a yang terjepit dan menyembul keluar dari peta. Outline menjuntai keluar seperti tali pengaman.

Makna berkelana mencari definisi, kemudian outline menangkapnya.

Sundea 

inclusio Inclusio adalah band indie beraliran pop-jazz yang terdiri dari Rangy (vocal), Bayu (piano, synthesizer), Dado (gitar), Agung (drum), Ajay (bas), serta kerap tampil bersama additional players seperti pemain saksophone atau terompet.. Bermain dari kampus ke kampus dan kafe ke kafe. Untuk tahu lebih banyak mengenai Inclusio, klik www.myspace.com/inclusio

Semut yang Menggambar Anak Beruang


Pada suatu pagi, di hari keseimbangan, Anak Beruang dan Semut mengobrol sambil sarapan madu bersama-sama. 

“Minggu depan Salamatahari temanya outline, Semut, dan edisi itu penting untuk aku.”
“Penting kenapa?”

“Karena di sana, untuk pertama kalinya Serial Anak Beruang muncul di www.salamatahari.com.”

“Wow, selamat, ya …”

“Tapi kata Dea harus ada gambar Anak Beruangnya. Aku nggak bisa gambar dan kamera Dea nggak bisa motret tembus imajinasi …”

“Jadi gimana, dong?”

“Kamu bisa gambar, nggak …?”


Seminggu kemudian, Semut yang ternyata berasal dari bangsa “semultiply”, mengganda-gandakan dirinya. Ia menyusun diri menjadi enam gambar Anak Beruang yang lucu sambil membuat pengakuan, “Anak Beruang, sesungguhnya, sejujurnya, aku belum pernah menggambar binatang, terutama beruang … hahahahaha ….”

DANG !

babybear-ant 
Sundea

Ilustrasi : Anto Arief penggambar, musisi, seniman yang bulan Maret ini akan berpameran “Groovin’ Mixtape Project” di Amsterdam, dan teman yang menyenangkan =) 

======================================
Halo, Teman-teman, di edisi ini untuk pertama kalinya Serial Anak Beruang muncul di www.salamatahari.com. Salamatahari mengundang teman-teman untuk ikut berpartisipasi. Silakan menggambar tokoh Anak Beruang (yang sering muncul secara random di twitter @salamatahari) versimu, kemudian kirim dalam format JPEG ke salamatahari.sundea@gmail.com. Jangan lupa sertakan profilmu, ya … ;)

Jika cocok, gambar Anak Beruangmu akan muncul di www.salamatahari.com beserta cerita kecil dari Dea.

Jangan ragu-ragu, segera kirimkan karya kamu. Mari kita nge-jam karya =D