Be(r)kas


Geletar “r” menyisip di sela-sela kata “bekas”. Yang usang lalu memperoleh makna baru: sinar, persatuan, kilasan ide, dan catatan-catatan penting. “Bekas” yang dijejakkan tahun lalu menjadi “berkas” yang membekali tahun mendatang.

Pada hari keseimbangan pertama di tahun 2011 ini, www.salamatahari.com memberkas serangkai cerita untukmu. Ada Pak Mu’min dan berkas lidinya, ada posting yang diculik dari berkas 30 Hari Menulis asuhan Kak Maradilla, ada berkas cahaya yang dapat kau dengarkan, dan ada Indie Book Corner dengan berkas naskahnya yang mengantri untuk diterbitkan. 

Secara bunyi, konsonan “r”, “k”, dan “s” pada kata “berkas” memberi kesan renyah. Maka, sebelum angin mencuri kerenyahannya dan alot menyergap, mari tanam berkas-berkas kita di tanah gembur. Biarkan waktu menjaganya dengan kasih sayang dan kita memeliharanya dengan harapan.

Teman-teman, semoga tahun ini menjadi tahun yang baik bagi kita semua.
Semoga kita senantiasa bertukar hal baik setiap hari.

Selamat tahun baru 2011.

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,

Sundea


Irwan Bajang: “Menerbitkan Buku Itu Mudah”

  
Bermula dari keinginan untuk menerbitkan bukunya sendiri, P05-01-11_14-30Irwan Bajang dibawa waktu kepada gagasan mendirikan Indie Book Corner (IBC). IBC adalah sebuah penerbitan independent di Yogyakarta yang ia kelola bersama kekasihnya, Yayas.

Pada Salamatahari edisi “Berkas” ini, Irwan Bajang membagi semangat literasinya yang menyala-nyala. Ia berharap kelak setiap penulis dapat menerbitkan karyanya dalam bentuk buku. “Menerbitkan buku itu mudah,” ujar Irwan Bajang optimis.


  

Halo Mas Irwan … cerita dikit, dong, tentang awal mula berdirinya “Indie Book Corner”
Hmmm … mulainya dari mana, ya? Dari ide dulu, ya. Awalnya tahun 2006 sebenernya. Waktu itu saya lagi rajin-rajinnya menulis puisi dan ingin menerbitkannya menjadi buku. Nah, karena saya baru aja beberapa bulan di Jogja, saya sama sekali buta bagaimana menerbitkan buku. Akhirnya saya browsing internet, cari di mbah google, dan ketemu beberapa kontak penerbit. Saya tawarkan buku puisi saya ke mereka. Kok gak ada yang respon ya? Jawaban mereka sih, konon buku puisi nggak laku. Ya sudahlah, akhirnya saya bikin aja sendiri.

Caranya?
Waktu itu saya punya komputer dan printer, serta seorang temen yang pinter desain. Materi puisinya saya layout sendiri, saya edit dan print. Lalu saya potong dan jilid. Jadilah ia buku, buku pertama saya yang saya kerjakan dari menulis sampai jadi berbentuk semacam buku. Itulah buku saya pertama yang memperkenalkan saya pada dunia “buku indie”. Judulnya: Sketsa Senja.

Jadi pas itu, ya, lahir Indie Book Corner?
Belum. Tahun 2008 saya punya naskah novel dan diterbitkan di sebuah penerbit di Jogja. Setelah itu sedikit demi sedikit saya ngintip proses penerbitan buku. Dari situ saya kenal apa itu editing, proof reader, bagaimana mengkonsep cover, ilustrasi dan model kerjasama dengan distributor. Akhirnya tanggal 9 bulan 9 tahun 2009 saya bikinlah weblog Indie Book Corner (IBC) di www.indiebook.co.cc bersama Anindra Saraswati (Yayas) setelah sebelumnya mempraktekkan menerbitkan buku indie dengan beberapa teman dan sempat bekerja setahun di sebuah penerbitan di Jogja. Sejak itulah IBC resmi berdiri dan membuka layanan self publish ala buku indie. Saya mulai rajin mencari tahu percetakan yang murah dan bisa cetak sedikit. Bergerilya dari satu percetakan ke percetakan yang lain. Kebetulan juga waktu itu ada temen kos yang punya percetakan. Sekarang kita udah kerjasama dengan Quantum Printing dan punya percetakan sendiri. Cetak-mencetak sudah bukan masalah lagi bagi IBC!

Asoy! Jadi udah nerbitin buku apa aja, nih, dari taun 2009 itu?
Kami menerbitkan nyaris semua jenis buku. Naskah yang masuk ada naskah horror, komedi, cinta, novel religi, puisi perlawanan dan ada juga buku serius masalah ekonomi global, politik, bahkan tutorial dan text book bahasa Inggris. 

Yang ngebedain IBC sama penerbit lainnya?
Sangat berbeda. Terutama dalam hal bagaimana memperlakukan naskah dan penulis. Di IBC semua penulis berhak menerbitkan buku. Semua naskah bisa terbit, dan tentu saja dalam jumlah terbatas, bahkan bisa dihitung jari. Pertama kali menerbitkan, kami hanya mencetak 10 eksemplar untuk satu judul. IBC tidak meberi royalti, tapi penulis menentukan royalti dari bukunya (kalau buknya dijual).

Sebenarnya Indie Book ini bukan penerbit, tapi lebih tepatnya sebuah “gerakan perbukuan/ gerakan buku indie”. Kami mengampanyekan bagaimana buku biar mudah diproduksi, diedarkan, dibaca dan diapresisi. Fokus kami bukan di industri perbukuan itu sendiri, tapi bagaimana menghadirkan sebuah “cara” menerbitkan alternatif, di tengah pusaran dunia perbukaun yang memang tak bisa terlepas dari “kapital”. Berbicara penerbitan konvensional atau penerbitan mayor, jelas tak bisa lepas dari bagaimana menimbang untung rugi, marketable atau tidak buku yang diterbitkan. Sebab menerbitkan 1000 atau 3000 buku jelas butuh dana yang tak sedikit dan tidak ada yang mau rugi. Nah Indie Book Corner coba keluar dari mainstream tersebut. Kami bukan saja melawan mitos 1000 atau 3000 buku sebagai standar jumlah minimal cetak buku, tapi kami memotong mitos menerbitkan buku itu susah dan berbiaya tinggi.

Indie Book berusaha memberi tahu, bagaimana cara menerbitkan buku. Jadi, kalau semua orang sudah tahu bagaimana cara menerbitkan buku, bisa jadi kelak IBC sudah tidak dibutuhkan lagi. Dan kami akan bahagia sebab cita-cita kami terpenuhi: semua penulis bisa menerbitkan karyanya dalam bentuk buku.

Waduh, cita-citanya mulia sekali. Terus, nih, kalau ada temen yang mau nerbitin buku lewat IBC, syaratnya apa dan ngirim naskahnya ke mana?
Persaratannya cuma satu. Punya tulisan. Nggak ada yang lain. Lalu kirim ke kami di Pajeksan GT 1/727, Yogyakarta (untuk info lebih lengkap klik http://indiebook.co.cc/).

Nanti sistem promosi-distribusinya gimana?
Kita sudah kerjasama dengan distributor untuk persebaran buku se-Indonesai Raya. Tapi itu untuk buku yang dicetak 500 atau 1000 dan jumlah di atasnya. Kalau di bawah itu, kita titip di kafe, distro, warung makan dan pasarkan sendiri via internet.

Boleh diedit dan layout sendiri, nggak?
Kami menyediakan jasa editor, tapi kalau penulis punya temen editor bisa minta bantuan tuh dan nggak perlu pakai bantuan IBC. Naskah bisa diedit sendiri, bikin cover dan layout sendiri (atau sama tim penulis) nanti cetaknya kami bantu. Tapi Sebisa mungkin buku harus diedit. Sebab bagaimana pun, penulis pasti punya kesalahan, minimal kesalahan ejaan atau istilah. Bahkan editor sekalipun pasti ada salahnya. Kami mau, buku jebolan IBC adalah buku dengan standar mutu yang tinggi, layaknya buku keluaran penerbitan besar.

Selama tahun 2010 kemarin apa yang menarik di perjalanan IBC?
Awal tahun seperti biasa wordpress.com mengirimi email untuk para pengguna blognya. Kebetulan blog IBC kan bernaung di wordpress tuh, nah mereka mengirimi kami statistik penilaian dan memberi ratting “WOW” untuk perkembangan blog kami. Pengunjungnya banyak, banyak yang bertanya dan banyak yang kami bantu. Senang sekali membantu banyak orang. Satu lagi, 2010 kami bisa menerbitkan lebih dari 30 judul, ini angka yang lumayan besar dan mengagetkan kami sendiri. Saya aja nggak sadar kalau kami sudah membantu menerbitkan buku penulis sebanyak itu.

Cihui, selamat, ya … terus apa target di taun 2011?
Targetnya adalah membantu semakin banyak penulis menerbitkan bukunya. Kalau bisa satu minggu satu naskah terbit. Jadi setahun kita nerbitkan 48 buku minimalnya.

Amin. Semoga tercapai. Terakhir, nih. Salamatahari minggu ini kan temanya “Berkas”. Apa yang ada di pikiran Mas Irwan pas denger kata “berkas” ?
Berkas itu kalau nggak salah artinya sekumpulan cahaya, atau bisa juga sekumpulan naskah atau surat. Hhhmmm. Berkas bisa jadi saya artikan sebagai sebuah kilatan ide. Kadang ada ide yang terlintas begitu saja, bagai seberkas cahaya yang tiba-tiba muncul. Nah, berkas ide itu perlu dicatat dan dikenang, siapa tahu nanti idenya bisa muncul lagi dan terwujud jadi kenyataan.

Widiiih … pas banget, dong, sama IBC. Nggak salah, nih, Dea milih Mas Irwan Bajang dan IBC buat penyalamatahari edisi pertama taun ini.
Kalau berkas yang kaitannya dengan naskah, surat atau kertas, saya jadi kepikiran banyak naskah numpuk di IBC dan saya butuh bantuan banyak orang menyelesaikannya.

Hahaha … ayo, Teman-teman, ada yang mau bantu, nggak, tuh …?

Seberkas harapan di dunia literasi bertumbuh bersama Indie Book Corner. Semoga kelak menjadi terang yang memberkati.

Teman-teman, mari berkumpul membawa berkas, menjadi berkas, kemudian tumbuh menerbit …

Sundea
P05-01-11_16-15[1]
Mbak Yayas

Kunjungi website Indie Book Corner di http://indiebook.co.cc/

Pernahkah Kamu Mendengarkan Cahaya?


Pernahkah kamu mendengarkan cahaya? Pukul setengah lima tadi pagi, seberkas cahaya mengorek telinga saya seperti cotton bud:

“Wake up, see the sunlight, through your window …”
Saya menanggapinya dengan dengkuran.
“Give it smile, can you feel this …,” lanjut si pengorek yang ternyata bernama Morning Call itu.
“Haduh, masih subuh, nih. Kayaknya mataharinya masih ileran, deh. Jendelanya juga masih ngantuk, ” sahut saya tanpa membuka mata.
“Dea, telinga kamu itu jendela yang lain. Yang sekarang perlu kamu buka cuma telinga, kok …”



Karena telinga saya sudah terjaga lebih dulu, saya biarkan ia membuka dirinya lebar-lebar. Morning Call menghamburinya dengan kord-kord bright yang bersinar cerah. Diawali dengan gitar yang dinamis dan hangat, disusul denting cemerlang dan drum menyenangkan, masuklah vokal ringan seorang pemuda yang terdengar masih cukup belia. Meski artikulasinya tak terlalu jelas, saya menikmati keramahan yang memancar dari warna suaranya. 

Lucu juga. Meski diiringi koord-koord mayor sembilan yang berseri, Morning Call menghaturkan melodi-melodi yang nyaris seluruhnya pentatonis. Tanpa koord dan detak drum, lagu tersebut akan terdengar seperti lagu tradisional Jawa yang mendayu dan melankolis. Saya menemukan kesenduan dan keseruan dalam satu paket. Entah mengapa rasanya nyaman seperti angin sepoi-sepoi yang mengiringi kita bersenam pagi. 

“Eh, Morning Call, sebetulnya kamu sedang senang atau sedih, sih?”
“Apakah senang dan sedih harus selalu berdiri sendiri-sendiri?”
Saya terkesiap.

Saya duduk di sisi tempat tidur. Megerjap sejenak, kemudian memutuskan untuk meninggalkan kasur. Morning Call mengakhiri lagunya dengan nada dan pukulan drum yang menggantung. Ketika saya berhenti mendengarkan cahaya, baru saya sadari bahwa pagi itu hujan turun. Suara deras rongrongan yang sejak tadi disembunyikan cahaya Morning Call kini tak punya saingan. Mata saya yang baru terbuka pun menangkap warna mendung yang menyusup dari sela-sela jendela. 

“You are my shining light … nananananana,” saya menyenandungkan sebagian kecil cahaya Morning Call sambil membuat kopi. Meski pagi itu matahari redup, saya senang-senang saja. Kadang, ketika tak bisa melihat cahaya, mendengarkan cahaya bisa menjadi pilihan.

Sambil menyeruput kopi, saya mulai menulis semacam review ini. Membukanya dengan sebuah kalimat:

“Pernahkah kamu mendengarkan cahaya?”

Sundea

daylightlogo Daylight adalah band asal Bogor yang berdiri sejak tahun 2004. Beranggotakan Avid Norman (vokal), DC (gitar dan backing vocal) , Adi (bas), dan Adi (drum). Morning Call adalah salah satu lagu mereka. Untuk mengenal mereka lebih jauh dan “mendengarkan cahaya”, klik http://www.reverbnation.com/daylighttheband




Ingin musikmu diperkenalkan dan di-review ala Salamatahari? Kirim email ke salamatahari.sundea@gmail.com atau mention @salamatahari di twitter. Jangan lupa kirim/sertakan link musikmu, ya ... ;)

Sapu Lidi Pak Mu’min


Sinar matahari pagi membelah jalan raya yang masih sepi. Di antara klakson angkot dan deru kedaraan yang melintas sekali-sekali, konsisten terdengar suara rumpun lidi yang menggesek aspal : srek … srek … srek … 



Menyapu bisa menjadi sesuatu yang sangat personal. Setiap orang mempunyai caranya sendiri-sendiri. Pagi itu, pada hari ke dua di tahun 2011, baru saya sadari bahwa selama bertahun-tahun saya mendengar gesekan sapu lidi dengan irama yang sama, ketukan yang sama, dan panjang tarikan yang sama. Konsistensi itu membuat telinga saya mengenalnya dengan baik namun luput mencatatnya. Spontan saya berlari keluar rumah. 




“Selamat tahun baru, Pak …”
“Selamat tahun baru …”
“Boleh, nggak kita ngobrol-ngobrol sambil Bapak nyapu? Saya kepingin nulis tentang Bapak …”
“Oh, boleh, boleh …”


Namanya Pak Mu’min. Sudah dua puluh enam tahun ia menjadi penyapu yang bertugas di sepanjang Jalan Siliwangi. “Dari sini saya nyapu ke Simpang, teruuuus … sampai ke Cikapundung. Mulainya dari jam 5 pagi,” papar Pak Mu’min. Laki-laki asal Cililin itu kini sudah berusia empat puluh delapan tahun. Mungkin sudah menjadi kakek. “Anak saya yang paling besar kelahiran taun 88. Sudah menikah,” ungkapnya bungah.


Sebagai seseorang yang hanya mencecap pendidikan sampai tamat Sekolah Dasar, Pak Mu’min tak punya banyak pilihan lapangan kerja. Itu sebabnya ia bersetia pada profesinya sebagai penyapu jalan. “Kalau ditanya suka-dukanya, sih, banyakan dukanya. Gaji saya kecil. Tapi suka-duka kembali kepada diri kita, bagaimana kita menyikapinya,” ujar Pak Mu’min arif. Saya tersenyum.  

Mengenai sapu lidinya, Pak Mu’min mempunyai perumpamaan menarik, “Ibaratnya orang kantoran pakai alat tulis, saya pakai sapu lidi.” “Terus Bapak pengen bilang sesuatu nggak sama sapunya?” tanya saya. “Bilang sesuatu? Gimana ngomong sama sapu lidi?” tanyanya sambil menatap sapunya kebingungan. Saya tergelak.
Suara sapu Pak Mu’min menggesek jalan raya. Sesekali berhenti ketika ia harus mengangkut sampah yang telah terkumpul atau menanggapi orang-orang lewat yang bulak-balik menanyakan jalan. Sebagai seseorang yang setiap hari bertugas di sana, Pak Mu’min tentu mengenal sepanjang jalan Siliwangi dengan sangat lekat. 

 

“Punya harapan apa di taun 2011 ini, Pak?” tanya saya. “Gaji saya naik,” jawabnya singkat, separuh berseloroh. Saya tertawa. “Bapak nama panjangnya siapa, Pak?” tanya saya lagi. “Mu’min. Itu aja,” lagi-lagi ia menjawab dengan singkat. 

Pak Mu’min adalah seseorang dengan nama yang ringkas. Masa pendidikan yang tidak panjang. Harapan sederhana. Dan tubuh yang tidak jangkung.

Tetapi “srek-srek-srek” sapunya adalah lagu panjang tentang sebuah perjalanan …

Sundea

Update Update!

Halo semua!

Setelah beberapa waktu sempat vakum, pikiran saya selalu terganggu dan terbagi dua, antara pekerjaan pribadi saya dengan dengan adanya keinginan untuk terus me-review teman-teman #30harimenulis. Setiap saya buka tumblr ini, sedikit miris rasanya karena harus menyerah karena harus menelantarkan #30harireview. Bagaimanapun juga, keinginan untuk mengapresiasi teman-teman #30harimenulis ini tetap ada. Maka, mari kita mulai kembali sedikit demi sedikit. Yang belum saya review, sabar ya!

Ini dia perkembangan dari proyek #30harimenulis:



1. Dengan bantuan Sundea Belaka, saya dan wanita unik yang selalu mengingatkan saya akan ceria-nya matahari ini sama-sama mengasuh rubrik #30harimenulis dan memberikan apresiasi berupa “Posting Pilihan” beserta hadiah dari salamatahari. Siapa saja yang menang? Hadiah apa yang diberikan? silakan kunjungi: www.salamatahari.com

2. Misi #30harimenulis ini adalah misi seumur hidup, silakan mulai kapan saja, jadi, kalau ada yang bertanya, “Kak, masih bisakah ikutan #30harimenulis?” , tentu saja bisa dong!

3. Pertemuan teman-teman #30harimenulis masih pada tahap perencanaan. Tentu saja jika ada perkembangan akan diinformasikan pada blog ini.

Tetap semangat!

-Maradilla Syachridar-


=======================================
Tentang 30 Hari Menulis

“30 hari menulis” adalah sebuah program seru yang digagas oleh Theoresia Rumthe (penyiar MGT 101.1 FM dan penulis) dan diasuh oleh Maradilla Syachridar (penyiar Sky 90.50 FM dan penulis).
Bekerja sama dengan Salamatahari, telah terpilih dua peserta yang memperoleh buku “Salamatahari 1” atau “Salamatahari #2”. Sebuah posting seputar 30 hari menulis pun hadir setiap minggu di www.salamatahari.com.

Ingin tahu dan menjadi peserta 30 hari menulis? Mari klik http://maradillasyachridar.tumblr.com/