Go Grin

Senyum adalah pohon yang mempunyai banyak ranting. “Grin” salah satunya. Ini adalah jenis senyum tengil yang memperlihatkan gigi-gigi depan. Ia membuat jengkel sekaligus meluruhkannya. Untuk konteks tertentu, “grin” adalah permintaan maaf yang secara persuatif justru mengajak “korban” terlibat dalam suka ria permainan.

Seperti gigi depan yang berseri, pada www.salamatahari.com edisi ini hadir posting-posting yang mengajakmu ber -“go grin” ria. Ada kekocakan gig “Santay-santay Tengah Pekan”, Mufti Amenk Priyanka dan karyanya yang sangat “go grin”, obrolan-obrolan absurd-absurd inspiratif bersama tukang taksi, dan review Maradilla mengenai Tara Seprita, salah satu peserta #30 hari menulis yang telah merampungkan misi dan membuat tulisan-tulisan yang menyenangkan.

Teman-teman, cengirkan “go grin” di dunia yang sedang abu-abu diliputi berita-berita nestapa nan serius. Karena kita adalah homo ludens (manusia yang bermain), sah adanya kembali mengakomodasi hasrat ketengelin kita yang purba sekali-sekali. 

Last but not least … jangan lupa, ya, sikat gigimu dua kali sehari setiap hari sebelum “go grin” …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea

Santay-santay Di Hari Keseimbangan

-Mocca Café, Kamis 14 Oktober 2010-
Santay-santay Tengah Pekan

gambarsantay

“Yudh, kenapa, sih gambar posternya musti orang bawa selancar di hutan-hutan gitu?”
“Biar pas liat orang mikir, ‘Wah, asik, nih, acaranya!’.”
“Ey? Apa hubungannya? Itu aja alesannya?”
“Iya. itu aja.”



Pada Mocca Café di bilangan Jalan Jaksa Jakarta, berlangsung gig bertajuk “Santay-santay Tengah Pekan”. Meski di sela hari kerja, acara tetap semeriah layar tancap malam minggu. Tiga band (Fantastic June, Deu Galih and Folks, dan Cause) serta seorang musisi blues eksperimental (Adrian Adioetomo) memukau penonton selama sekitar empat jam.

Terpukau menonton Cause

Penampil pertama adalah Fantastic June. Band dengan musik galau-galau romantis ala Kings Convenience ini menciptakan suasana sendu mendayu. Selanjutnya tampil Deu Galih and Folks yang datang bagai rombongan sirkus dengan kemeriahannya yang khas. Cause menyusul dengan lagu-lagunya yang ear catching dan anak muda masa kini. Dan Adrian Adioetomo bersama blues eksperimentalnya menjadi puncak seluruh acara.

Adrian yang tiga tahun lalu merilis “Delta Indonesia”, album yang terpilih sebagai salah satu album terbaik versi majalah Rolling Stone tersebut, tampil beserta seorang DJ. Tak sekedar mempersembahkan chord-chord blues memikat dan ketangkasan jari memainkan melodi, Adrian juga bermain-main dengan ketukan kaki, gesekan pada senar gitar yang dipadukan dengan gesekan piringan hitam sang DJ, serta kemampuan membawa diri yang membuat penonton merasa ikut tersedot ke panggung. Lagu-lagu dengan lirik puitis-puitis kontroversial pun dilemparkan, “Malaikat mencari tangga darurat …”

Adrian Adioetomo

Mocca Café sendiri adalah café yang terbuka untuk acara-acara musik. “Syaratnya, jenis musiknya jangan yang kenceng-kenceng. Paling akustik. Sebates rock n roll masih bolehlah. Kalau mau bikin acara hubungin aja ke saya, Iqbal Pattish, 08788606623. Kita sediain sound system, gitar juga ada. Apa yang dibutuhkan dan harga tempat bisa dibicarakan secara kekeluargaan. Acara ini misalnya, sistemnya pakai tiket dan bagi hasil 60-40,” papar Mas Iqbal, manager Mocca Café. Ketika Dea sedang mecatat penjelasannya, Mas Iqbal menambahkan lagi, “Eh … soal minumannya ditulis, dong, penting. Kita ini spesialis kopi. Yang jual kopi di Jalan Jaksa ini cuma kita, lho …”

Ketika acara resmi rampung, Dea menghampiri Dede, ketua penyelenggara dari Wastedrockers, sebuah gerakan yang mendukung musisi-musisi non-mainstream dan aktif meng-update blognya di wastedrockers.wordpress.com. “De, apa yang bikin lo milih hari Kamis untuk ngadain acara ini?” tanya Dea yang sebetulnya mengharapkan sebuah jawaban konseptual. Dan Dede pun menjawab, “Abis dapet gratisnya hari ini.” TAK JEDES!

Malam itu kerayaan “Santay-santay Tengah Pekan” hadir tanpa pretensi. Pemusik-pemusik yang bermusik apa adanya, waktu penyelenggaraan acara yang juga apa adanya, poster yang di-design dengan sebuah alasan lugu seadanya, dan sebuah kafe muda yang usianya belum genap setahun dan menyambut segala acara dengan tangan terbuka.

Jalan Jaksa tidak bertindak sebagai jaksa yang menuntut. Tengah pekan pun membiarkan hadirin larut melupakan weekdays yang masih menanti.

Teman-teman, hari itu hari Kamis yang adil. Hari keseimbangan yang ada di antara Senin-Selasa-Rabu, Jumat-Sabtu-Minggu ...

Sundea

Semangat Go Grin dalam Karya Amenk Mufti Priyanka

Amenk Mufti Priyanka adalah seniman yang kerap amenk mengangkat tema romantisme urban. Kita minimal tersenyum melihat gambar ala ilustrasi truk jalur Pantura atau sticker angkot dalam karya-karya Amenk. Ketika diwawancara untuk www.salamatahari.com edisi “Go Grin”, baru disadari bahwa di balik karya-karyanya yang jahil, Amenk ternyata seorang pemuda yang … lumayan serius.

Pertanyaan paling umum dulu, nih, Menk … apa konsep dari karya-karya lu?
Bicara konsep dalam karya, saya cenderung mengangkat tema “Romantisme Urban”. Awalnya lebih ingin mengangkat kejadian keseharian masyarakat kota pada umumnya, di sisi lain juga gua banyak mengolah adegan tertentu ataupun kejadian khusus di benak sendiri lewat imajinasi ( ide – intuitif – eksekusi ) dan semua itu akhirnya bisa dituangkan pada visual.

Seperti sticker angkot dan gambar-gambar di truk, karya kamu juga nggak lepas dari teks. Nah, gimana posisi teks di karya kamu?


Pada kenyataannya, teks di karya gua lebih menampilkan sisi artistik personal dalam proses berkarya. Kalopun menjelaskan ilustrasinya, pada struktur kalimatnya banyak tersirat implementasi diksi – diksi mbeling, ataupun kalimat yang mengandung makna - makna eksplisit hingga subversif. Gua menikmati banget sensasi – sensasi absurd yang gua kembangin sendiri. Ada semangat “kegilaan “ intuitif yang dapat dikembangkan secara liar; lebih liar daripada yang berkembang di benak orang pada umumnya.

Apa aja yang menginspirasi karya kamu?
Kejadian sehari – hari, majalah fashion / musik jaman dulu, film – film cult, ruas – ruas gang ataupun jalanan di kawasan padat penduduk yang kumuh, skandal percintaan, film – film blue yang hard core banget, kemben melorot sang biduan dangdut koplo di panggung 17 agustusan, cerita esek – esek di koran gurem, video klip musik minor daerah dengan modal murah, ikon lokal, ballroom blitz café remang – remang khusus gay, novel dewasa, preman mabuk akan alkohol buatan lokal dan meresahkan, residivis kambuhan, komik wayang dan musik. Kalo seniman yang sangat menginspirasi di antaranya : Tisna Sanjaya, Raymond Pettibon, Eko Nugroho, Charles Burns, Andry Mochammad, Jim Supangkat, Frank Kozik, Jan Mintaraga, Shepard Fairey, Onong Nugraha dan Tatang Suhendar.

Wooow … banyak juga, ya … ngomong-ngomong udah pameran, dong, Menk? Di mana aja?
Paling sekitar Bandung, Jakarta, Yogyakarta dan Surabaya. Lebih jauh itu belum pernah heheheh niat sikhh bisa melancong ke luar negeri, doain ajaah. Dan kalo masalah juara – juara gitu perasaan belum pernah dech hahahahaha …
Terus, selain melancong ke luar negeri, apa lagi harapan kamu sebagai seniman yang berkarya?
Soal harapan sihh gua ga muluk – muluk, harapannya karya gua bisa dikenal lebih luas di berbagai kalangan dan yang lebih spesifiknya pengen bisa masuk terbaca literasi wacana seni rupa kontemporer Indonesia. Amien ;)
Amiiien … kalau tentang tema Salamatahari minggu ini, “Go Grin”, pendapat kamu apa …?
Go Grin bagi gua seperti halnya melihat sesuatu “ freak “ yang terkesan memaksakan tapi eksentrik adanya. Tapi ada kesadaran lain yang bisa terangkat ketika si “Go Grin” itu punya makna maupun esensi nan artistik. Itu yang buat nilainya lebih aduhay enak disimak dan dinikmati dengan seksama. 

Jadi karya-karya kamu “go grin”, nggak?
Hmmm you’ve got the vote about that, enjois hehehehe …

Hahaha … yo’i. Btw, Menk, pertanyaan-pertanyaan gua barusan basi, ya?
Basi?! Hhmmm iya sikhh hahaha tapi ga juga akhhh …

Basi, lagi, Menk. Gimana, dong …?
Kalo yang basi mau bermanfaat bagi semua,yang jelas bikin sesuatu yang bikin ngehibur orang dan mengemasnya lewat suguhan yang lebih extra – ordinary … duh malah gua ngerasa basi nich hahaha …

Apa perlu kita masukin kulkas aja, ya … ?
Waaakhh pertanyaan yang mantep nich ;p kalo emg basi yaaa masukin kulkas griya atau masukin ke kulkas Pak SBY, kayaknya kulkas presiden lebih dingin tuch …

Hahahaha … kayaknya iya. Yuk kita ke Griya ato ke rumah SBY … 

Di penghujung wawancara, Dea meminta Amenk membuat art work yang merespon wawancara kami hari itu. Inilah hasilnya:

lean-on-me
Title : Lean on Me ( just crooch crooch me hufft )
Media : China Ink on Paper
Size : 21 cm X 29,7 cm
Year : 2010

Apa yang ada di benakmu ketika melihat karya ini? Cukup “go grin”-kah menurutmu? 

Sundea

atau kirim email ke muftipriyanka80@gmail.com

Tara Seprita

“30 hari menulis review” oleh Maradilla Syachridar

A woman who still looking for who she is in the right words. A photographer. Ketika suatu hari Tara mention saya di twitternya dan berkata bahwa dia mengikuti misi #30harimenulis karena membaca blog saya, pada saat itu juga saya langsung membuka blognya dan sejak saat itu mengikuti perkembangan misinya. Dia adalah satu dari mereka-mereka yang memang menjadi angkatan pertama dalam misi #30harimenulis.

Gaya penulisan Tara yang menyenangkan sebenarnya bukan alasan utama mengapa saya menyukai tulisan-tulisan Tara. Selain tulisan, Tara memang seorang blogger yang sering mengekspresikan postingan-postingannya dengan foto hasil jepretannya. Maka, ketika membaca blog Tara, dengan kesan “Ekspresif”-nya, somehow, saya membayangkan seorang Tara adalah penulis novel chicklit yang menceritakan kesehariannya di misi ini. Girlie, supel, dan senang bersosialisasi.

Simak postingannya tentang The Pink Moustache (Day#15) :



My friends keep askin me why I put a pink moustache on my bbm profile picture, it’s cute, isn’t it? I mean the pink moustache, not me. Not only me, few friends on facebook also have the same moustache. What is it anyway? 

foto1
It’s not an underground political movement or newest trend to ridicule your friends. It is a campaign created to raised awareness on appreciating the upturn of many local brands (apparel, shoes, bags, accessory). A short project to welcome Jakarta newest consignment store that carries fine local brands. The specific campaign tries to create awareness and highlight the development of local brands, as well as create a venue for others to appreciate it.Well, personally I don’t think “local brands” are not as cheap as we think they are. They’re also pretty expensive :P


tara2
tara3 
 
 Very cute, isn’t it? :)
http://punyatara.blogspot.com/

======================================

“30 hari menulis” adalah sebuah program seru yang digagas oleh Theoresia Rumthe (penyiar MGT 101.1 FM dan penulis) dan diasuh oleh Maradilla Syachridar (penyiar Sky 90.50 FM dan penulis). 

Bekerja sama dengan Salamatahari, akan terpilih beberapa peserta yang akan memperoleh buku “Salamatahari 1” atau “Salamatahari #2”. Sebuah posting seputar 30 hari menulis pun hadir setiap minggu di www.salamatahari.com.

Ingin tahu dan menjadi peserta 30 hari menulis? Mari klik http://maradillasyachridar.tumblr.com/

Taxi Wisdom

Pada suatu hari temen Dea ngeluh, “Gue males, deh, ngajak ngobrol tukang taksi. Dipancing dikit aja ceritanya bisa ke mana-mana. Capek gue ngeladeninnya.” Temen Dea ini kerja di media berita online yang cukup rodi. Nggak heran kalau dia udah males denger cerita apapun – apa lagi yang ajaib-ajaib – di dalem taksi. Tapi curhatan dia bikin Dea kembali mengingat para tukang taksi dan celotehnya. Taksi itu inspiratif. Meski kadang “too much information”, para tukang taksi suka ngebawa kearifan kecil dengan caranya sendiri. Percaya, nggak? Karakter Oscar the Grouch di Sesame Street pun terinspirasi dari tukang taksi yang ditemuin Carroll Spinney, sang pemeran Oscar, yang ngobrol sama dia di suatu perjalanan. 

Selama bulak-balik Jakarta-Bandung beberapa bulan ini, ada beberapa tukang taksi Jakarta yang Dea inget kata-katanya (sayangnya, karena emang selintas lalu, Dea nggak sempet nyatet namanya). Here they are:



Tukang taksi 1:
Pada suatu hari pas Dea sedang sedih, ada tukang taksi baik hati yang enak diajak ngobrol. Dia nganter Dea ke pool travel. Dia cerita kesehariannya nyetir taksi dan sang istri yang buka warung di rumah. “Cuma ini yang bisa bikin idup yang udah baik jadi lebih baik lagi,” katanya. Dia bicara dengan nada yang biasa-biasa aja. Tapi Dea ngerasa kalimat itu istimewa dan positif banget, “bikin dup yang udah baik jadi lebih baik lagi”. 

Tukang taksi 2:
Setelah capek seharian di kantor Concept, Dea disetirin tukang taksi umur fifty something yang selalu berapi-api. Dia cerita kalo dia pindah dari perusahaan taksi A ke taksi B karena taksi A terlalu mahal. “Kalau kemahalan kan pelanggannya jadi lari semua. Udah saya bilangin nggak mau denger.” Selanjutnya dia cerita tentang anak-anaknya yang dapet beasiswa sekolah ke Malaysia dari Yayasan Habibie. “Dulu pas saya tanya, anak saya yang paling besar pingin sekolah di Al Azhar. Saya sedih. Terus saya bilang, ‘Kalau ke situ, uangnya dari mana?’ anak saya jawab, ‘Abis ditanya. Kalau ditanya ya maunya ke situ …’ Terus dia saya suruh berdoa aja. Eh … pas SMA dapet dia beasiswa ke Al Azhar. Pas kuliah beasiswanya diterusin lagi,” paparnya berbinar bangga. Dea senyum aja ngedenger ceritanya.

Sepanjang jalan yang macet, tukang taksi itu bicara apa aja. Tentang pengalamannya nyetir taksi di Bali, tentang keyakinannya kalo setiap agama itu baik, tentang kepalanya yang pernah cedera, dan tentang anak sulungnya yang taun depan lulus. Macet jadi nggak kerasa. Tau-tau Dea udah sampe di rumah dan terhibur kayak abis denger sandiwara radio.

“Tadi Dea naik taksi. Tukang taksinya asik. Dia keluar dari taksi A karena taksi A kemahalan. Terus anak-anaknya dapet beasiswa ke Malaysia …,” cerita Dea ke orang-orang rumah. Orang-orang rumah ngetawain Dea. Kata mereka kata-kata tukang taksi jangan terlalu dipercaya. 

Bisa jadi orang-orang rumah bener, tapi bisa jadi juga tukang taksi itu yang bener. However, hiburan dari kemampuan story telling-nya nyata. Dan Dea sepakat sama beberapa pandangannya tentang universalitas agama.

Tukang Taksi 3:
Dari antara ketiga tukang taksi yang Dea ceritain, ini tukang taksi paling slengean. Dia anak Betawi asli. Sempet tinggal di Soreang dan hampir nikah sama gadis Sunda. “Kenapa nggak jadi, Bang?” tanya Dea. “Waktu disuruh bawa orangtua, saya nggak punya orangtua. Udeh karena itu doang,” jawab si tukang taksi ringan.

Dia juga cerita apa adanya tentang kemalesannya, “Kalau saya mau dateng, ya dateng. Kalau males narik, ya nggak narik. Kalau mau pulang cepet, yang pulang cepet aje. Yang penting entaran nyetor. Nah, kalau saya, ya. Neng, saya termasuk supir yang pemales.” “Kenapa, atuh, Bang, males?” tanya Dea sambil nahan-nahan ketawa. Lagi-lagi dengan ringan dia ngejawab, “Yaaa … gimane, ye? Namanya juga males ya mau diapain lagi?” Dea ngakak ngedengernya.

***

Beberapa bulan yang lalu, di www.salamatahari.com edisi “Take Off” (edisi 30, 24 Juni 2010) Dea sempet cerita tentang “Udin Pengkolan”, komedian lokal yang punya acara sendiri di tv Yogya tapi masih setia narik taksi. Menurutnya, banyak lelucon-lelucon yang dia dapet dari pergaulannya dengan para supir taksi. Ngobrol dengan Udin Pengkolan pun menyenangkan. Ada prinsip dan kearifan idup yang jenaka, yang kadang mungkin nggak bisa diterima akal, tapi sangat gampang diserap sama hati kecil. 

Temen-temen, besok-besok kalau naik taksi coba ajak tukang taksi kamu ngobrol. Bisa jadi argo taksi mahal justru karena adanya taxi wisdom …

Sundea