Think Black*


Tuhan yang hitam tersebar di mana-mana. Melayang-layang di jalan, menantimu di pasar-pasar, menjadi gada-gada di perkebunan, menenteng tajil, menyembunyikan pembalut yang dibuang ke tong sampah, dan menjaga kepalamu dari air hujan. Ia yang hitam terampil meyerap silau dan pandai menyimpan rahasia. Tuhan hitam mengajarkan pada saya bahwa kesucian tak terbatas warna.

Minggu ini www.salamatahari.com berbagi cerita seputar think black. Ada tuhan kresek hitam dan bungkus snack rasa ikan, ada album Sarasvati yang menjelma bayang di dinding, ada Onde Mande Si Monyet Hitam narsis sebagai penyalamatahari, dan ada tuhan hitam yang melapisi sadel gerobak penjual krupuk.

Hitam tidak selalu membutakan, kadang ia justru mempertegas cahaya. Hitam tak selalu mengerikan, adakalanya ia jadi sahabat terbaikmu. Hitam memiliki kearifannya sendiri. Ia menorehkan cerita di kertas putih, menyimpan sesuatu yang mungkin justru mencelikkan mata hati. 

Selamat menyambut hari raya Idul Fitri 1431 H, Teman-teman
Think black, berikan arti pada putihmu …

Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea

*diculik dari tagline rokok Djarum Black

Story of Peter-Sarasvati di Dinding, Diam-diam Merayap



Sesosok bayangan berkelebat di dinding kamar saya. Agak waswas, saya menyalakan lampu kecil di sisi tempat tidur. “Siapa itu …?” tanya saya dengan suara gemetar. Tak ada sahutan. Namun bayangan itu berkelebat lagi. Dan lagi. Dan lagi. Akhirnya ia tak lagi terlihat menakutkan. Kewaspadaan saya mengendur.
Kelebat-kelebat itu merayap dan menyampaikan tujuh cerita sedih. Dengan tangkas ia bermain dengan berbagai elemen sehingga menjadi teater yang mengusik emosi. Ambil contoh dalam Fighting Club. Dibuka dengan melodi satir, iringan chord minor putus-putus pada piano, dan kalimat yang jadi terasa sinis karena musik yang disandingnya, 

“We are happy family, we don’t think to equally”




Di tengah-tengah lakon, musik tiba-tiba berhenti. Masuklah drama percakapan di telpon yang hanya memperdengarkan suara aku lirik sebagai salah satu pihak. Ketika emosi memuncak, perlahan dan fade in musik kembali membangun suspense sampai akhirnya terbit utuh dalam tempo yang lebih lambat. Lelah. Tetapi marah. 

Kelelahan dan kemarahan serupa hadir dalam Cut and Paste. Meski disampaikan dengan lebih empuk, ada bagian yang juga hadir dalam tempo lebih lambat,

“There is something in your mind, force my every single line
Should I dancing in your stage, just like your cat in your cage ….”

… dan jika diperhatikan lebih saksama, pada bagian tersebut vokal seperti redam dan keluar dari tape recorder. 

“Siapa kamu sebetulnya?” tanya saya sambil mengusap bayangan yang merayap di dinding. Tetapi bayang adalah bayang. Ia hanya citra dari benda yang entah seperti apa bentuk aslinya. Yang lahir dari love-hate relationship-nya dengan cahaya dan imaji kita. Yang kemudian memainkan perannya di dinding sebagai cerita. 

Seluruh lakon ditutup dengan lagu recycle Perjalanan. Seperti dalam Bilur, bayang-bayang ibu dan kesepian hadir di sana. Sepi karena bayang-bayang memang membangun bentuk namun legam tanpa corak. Tahu-tahu saya merasa ada ruang kosong di antara jantung dan perut saya. 

“Tidur, ah,” gumam saya. Saya pun mematikan lampu. Membunuh cahaya. Membunuh bayang-bayang di dinding. 

Suara jangkrik dan detik konstan merayap. Kesadaran saya tak mau lelap. Ruang kosong di antara jantung dan perut saya menyala bersama bayang-bayang lakon Sarasvati yang ternyata telah pindah ke sana. Lalu bagaimana menyuruhnya berhenti jika saya tak tahu di mana letak saklar jantung dan perut saya?

Sundea

 Kunjungi Sarasvati di myspace: http://www.myspace.com/risasarasvati

Tuhan dan Bungkus Snack Rasa Ikan

: kresek adalah tuhan

Tuhan hitam ditampar air laut. Menyentuh pantai, merangkul pasir, menjadi asin. Air membuatnya basah dan amis laut. Karang membuatnya luka sedikit, tapi tak sampai menghancurkan pesonanya.



“Selamat pagi, tuhan,” sapa bungkus snack rasa ikan. “Selamat pagi,” sahut tuhan ramah. “Ternyata tuhan begitu mirip dengan saya. Kita sama-sama plastik, sama-sama basah, sama-sama asin, dan sama-sama bau ikan. Saya senang sekali bisa sedekat ini dengan tuhan,” ujar bungkus snack rasa ikan gembira. Sebelumnya bungkus snack rasa ikan hanya mengenal tuhan-tuhan yang kering, hambar, dan bau bahan kimia di supermarket. Dia jadi bersyukur Dea membuangnya di tepi pantai.

“Bagaimana rasanya jadi bungkus snack rasa ikan?” tanya tuhan. “Rasanya … ? Hmmm … sebetulnya saya merasa keren. Wajah saya sering muncul di tv dan majalah, disandingkan dengan artis terkenal, dan orang-orang sepertinya merasa keren waktu membeli saya,” jawab bungkus snack rasa ikan bangga. “Membeli bungkus … atau snack rasa ikan?” goda tuhan jenaka. Bungkus snack rasa ikan terkesiap. 

Ia teringat pada snack rasa ikan yang dititipkan pabrik kepadanya. Sebagian dimakan Dea, sebagian lagi melempem dicuri angin. Bungkus snack rasa ikan sendiri lalu dilupakan dan menjadi sampah. Setelah snacknya dikuras, gambar yang tercetak di permukaannya pun memudar dicuri air laut, matahari, dan waktu.
Tetapi ia bertemu tuhan. Sedikit terhibur karena sekilas tuhan pun terlihat serupa dirinya. 

“Meski kamu bungkus snack rasa ikan, pasti kamu belum pernah melihat ikan. Ayo kita tamasya ke dalam laut,” ajak tuhan menyenangkan.

Bungkus snack rasa ikan ditampar angin laut; beringust ke perut tuhan hitam yang merengkuh apa saja tanpa pilih kasih. Bungkus snack rasa ikan meninggalkan pantai, mengindera pasir, dan menjadi asin air laut sungguhan. Ia sudah bersentuhan dengan tuhan, sebentar lagi ia bersentuhan dengan ikan.

Bungkus snack rasa ikan merasa memiliki segalanya. Sejak saat itu, tak ada lagi yang bisa dicuri darinya …

Sundea

Tuhan di Sadel dan Doa di Terpal


Seorang penjual krupuk mengaso di pinggir jalan. Doa memimpin gerobaknya, tuhan plastik kresek melingkupi sadelnya. Intuitif-impulsif saya menghentikan angkot yang sedang membawa saya dan menghampiri sang penjual krupuk.


“Kok sadelnya dibungkus pake kresek segala, Mas?” 


tanya saya pada penjual krupuk asal Ciamis yang ternyata bernama Mas Ade Tendi itu. “Biar nggak tembus air kalau hujan,” sahutnya. “Pernah nggak lupa pasang kresek terus keujanan?” tanya saya lagi. “Pernah. Celana jadi basah. Saya malu diliatin orang, dikirain apa,” sahutnya lagi sambil menahan tawa mengenang pengalaman itu. 


Bagi Mas Tendi musim hujan adalah berkah. Meski harus berrepot-repot memasang kresek dan terpal di gerobaknya, omset yang ia peroleh di musim ini jauh lebih besar. “Kalau musim panas dapatnya cuma tiga puluh sampai empat puluh ribu. Musim hujan bisa delapan puluh, malah kadang bisa sampai seratus ribu lebih, soalnya kalau musim hujan banyak yang makan mi,” ceritanya dengan mata berbinar. Hari itu masih ada tiga puluh lima ribu buah kerupuk di gerobaknya, “Tapi banyak langganan, kok. Yang di pasar-pasar ada yang ngambil lima ribu, sepuluh ribu, buat stok nanti syawal,” ujarnya optimis.

Setiap hari Mas Tendi berangkat pukul dua pagi dan pulang sekitar pukul empat sore. Ia mengayuh gerobaknya dari Cibaduyut, Pasar Ancol, Dago, sampai ke Pasteur. Konon profesi menjual krupuk ini sudah turun temurun, “Dulu orangtua saya juga jual kerupuk, tapi yang dipikul,” ungkap Mas Tendi, “Kalau dikabulkan saya berdoa bisa ganti profesi jadi juragan krupuknya,” katanya setengah berseloroh tapi membersitkan harapan yang sungguh-sungguh. “Jadi tulisan ‘doa’ di sini emang ada maksudnya, Mas?” tanya saya sambil melirik terpal gerobak. “Enggak, itu mah saya juga nggak tau. Yang penting buat nutup krupuk saya aja biar nggak kehujanan,” jawab Mas Tendi yang punya bayi berusia enam bulan ini.


“Doa” dan “Tuhan” adalah elemen yang membuat saya tertarik mewawancarai Mas Tendi. Ketika ditanya mengenai kedua hal itu, Mas Tendi menjawab sederhana, “Ya sama doa kita harus percaya, sama Tuhan juga kita harus percaya.” Saya tersenyum. Itulah yang tanpa sadar dilakukan Mas Tendi setiap hari. Ia mempercayai tuhan kresek hitam yang melapis sadel dan terpal yang menudungi krupuknya dengan setia, mengantarnya berkeliling jauh-jauh menembus hujan.

“Bandung udah sepi, lho, Mas, mudiknya kapan?” tanya saya. “Palingan besok, pas Lebarannya,” jawab Mas Tendi sambil mengepak krupuknya. Di penghujung wawancara saya membeli krupuk kuning. “Maap kreseknya nggak ada,” kata Mas Tendi. “Nggak apa-apa, bisa ditenteng, kok,” sahut saya. Kalaupun ada, tuhan lebih baik berjaga di dalam gerobak Mas Tendi, siapa tahu hujan turun lagi dan Mas Tendi membutuhkannya.


Saat memilih krupuk, saya menyadari sesuatu. Sejak tadi sepotong silet kecil menjuntai di sisi gerobak. Ia dan tuhan bertatapan lekat-lekat …

Sundea

Onde Mande Si Hitam Narsis yang Merasa Hitam Manis


Onde Mande adalah singkatan dari ONyetnya DEa MANis DEh. Mungkin akibat nama yang berbau narsistik inilah monyet hitam kurus kering dan sesungguhnya sangat biasa-biasa saja ini tumbuh terlalu percaya diri. 


Biar bagaimanapun, Dea sangat sayang padanya. Ia menemani Dea ke mana-mana, hadir untuk mengganggu sekaligus menceriakan, dan yang pasti, sangat tepat untuk Salamatahari edisi “Think Black” ini.




Ayo, Nde, kita wawancara.
Cek dulu jadwal Onde di manager Onde.

Halah! Manager kamu kan Dea.
Oh, iya. HAHAHA-HAHAHA-HAHAHA

Heup! Kamu kan warnanya item, ya, Nde. Apa pendapat kamu tentang warna bulu kamu?
Indah. Apapun yang ada pada Onde pasti indah. Tahu, nggak, sampai ada yang nyiptain lagu buat Onde, “Hitam manis, hitam manis yang hitam manis …”

Idih! Ge-er amat! Lagu itu kan udah ada dari sebelum kamu lahir!
Begini, Dea. Pencipta lagu itu tahu kalau di masa yang akan datang, akan muncul monyet hitam yang mencengangkan dunia. Jadi dia seperti meramal, lagu dia itu nubuatan. HAHAHA-HAHAHA-HAHAHA …

Your wish! Kalo suatu saat bulu kamu jadi putih gimana?
Lagu itu pasti akan berubah juga jadi “Putih manis, putih manis, yang putih manis …”

DER! Hahaha …sekarang tentang warna item itu sendiri. Menurut kamu gimana, Nde?
Semua keindahan dalam warna hitam itu pasti mengacunya ke Onde. Misalnya, ada orang yang bilang hitam itu elegan, hitam itu cocok sama warna apa aja, hitam itu bikin orang keliatan lebih langsing, hitam itu misterius tapi seksi …. Onde banget kan? Jadi, hitam itu indah karena mengacu ke Onde. HAHAHA-HAHAHA-HAHAHA

Heup! Males banget, deh. Kalau pendapat kamu tentang dunia hitam gimana, Nde?
Dunia ketika semua orang meniru gaya berbulu Onde. HAHAHA…H(eup! Dea menutup mulut Onde).

Ya udah. Sekarang tentang kamu sendiri, ya.
Asik, ini kesukaan Onde … (duduk tegak)

Kenapa, sih, kamu obsessed banget jadi artis? Nggak pantes, tau. Kamu jelek begini …
Yah, Dea! Kirain mau nanya tentang apa. Tapi nggak apa-apa, Onde jawab. Onde, sih, percaya Onde ganteng. Mungkin karena kita terlalu deket, Dea udah nggak bisa lagi ngeliat ketampanan di wajah Onde. Atau Dea sengaja ngehina-hina karena takut Onde tau-tau lebih populer dari Dea, yaaa …?

Enggak.
Iyaaa … ayo ngaku.

Enggak, ih … eh, kalau Dea takut, ngapain Dea ngewawancara kamu buat penyalamatahari minggu ini?
Justru buat ngejatohin nama Onde.

Bulan puasa, Onde. Su’udzon dosa, tau.
Oh, iya. Dea juga, ngehina makhluk lain dosa, tau.

Oh, iya. Ya udah, kita baikan.
Onde dan Dea besrsalaman.


Terakhir, deh, biar nggak tambah ngaco. Apa pendapat Onde tentang tema Salamatahari minggu ini, “Think Black”?
Semua orang think about Onde yang hitam, manis, elegan, cocok sama apa aja, entertaining, serta misterius tapi seksi ini. HAHAHA-HAHAHA-HAHAHA …

Ketika Onde Mande sedang tertawa sendiri, Dea beringsut meninggalkan dia. Think black! Think beyond you can think in your normal mind. 


What do you think about this creepy monkey puppet …? Follow twitternya di @OndeMande


Sundea