Hati-hati Keluarga Menunggu Anda di Rumah

Dalam perjalanan pulang ke Bandung, sebuah plang di tol berhasil menangkap saya : “Hati-hati, Keluarga Menunggu Anda di Rumah”. 

Keluarga adalah tempat kita bertolak sekaligus kembali. Ia mempersiapkan kita menjadi manusia, sekaligus menerima manusia kita ketika tak siap menghadapi dunia. Ikatan membuat keluarga kadang membebani kita dengan tuntutan, tetapi ikatan jugalah yang membuat kita tak perlu takut hilang di keentahan. 

“Hati-hati Keluarga Menunggu Anda di Rumah” memberi alasan kita menjaga diri baik-baik di luar. Kalimat itu pun mengandung kekuatan untuk terus berbuat sesuatu yang nantinya akan kita bawa pulang. Ada harapan dan kasih sayang yang terus menjaga kita diam-diam dari jarak sejauh apapun.

Minggu ini www.salamatahari.com menghadirkan posting-posting seputar rumah dan keluarga. Ada Pak Doddy dan Desya puterinya, ada love-hate relationship antara K dan keluarganya, ada pameran “After Image : Personal (family) Memorabilia” karya Henrycus Napit Sunargo, dan ada keluarga baru Dea di Curipandang.

Hari ini www.salamatahari.com terbit persis satu bulan setelah Hari Keluarga Nasional (29 Juni)
Semoga sepanjang perjalanan memanusia kita senantiasa berhati-hati.

Ingatlah keluarga menunggu kita di rumah.
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea
celenganinimasihadadong

special gift for Theoresia Rumthe

Kepung Kenangan

-Cigadung, Selasa 27 Juli 2010-
Pameran Fotografi “After Image : Personal (family) Memorabilia ”


Ketika Bandung dikepung langit kelabu, dinding-dinding putih Ruangdepan S.14 mengepung foto-foto kelabu Henrycus Napit Sunargo. Karya yang dipamerkan mulai 11 Juli hinga 8 Agustus 2010 mendatang tersebut seluruhnya diambil dalam kurun waktu 10 tahun belakangan; berbaris rapi, namun tak tersusun secara historik. “Gue sengaja ngebawa sederet fragmen dan mengajak publik bermain-main persepsi. Mau mulai dari mana, berakhir di mana, semuanya gue bebasin,” ujar fotografer yang sempat berpameran di Finlandia tahun 2009 lalu itu.


Maka begitulah. Kita yang memasuki ruang maha mungil galeri pun kemudian dikepung oleh keping-keping kenangan personal Henrycus. Sosok ibu yang menjadi cermin. Kaki palsu ayah. Anjing peliharaan. Keponakan. Ceret. Jendela. Dan beberapa bayang-bayang tidak jelas. Di sudut lainnya sebuah album foto terebentang dijaga dua lampu meja. Pada halaman awalnya tercatat lirik Time Pink Floyd yang ditulis dengan pinsil.

Foto hitam-putih selalu membawa kesan sepinya sendiri. Ketika membidik obyek-obyek personal, ia jadi berjarak dalam kedekatannya, seperti hujan yang kau pandangi dari balik jendela rumah. Bingkai-bingkai yang ditata secara random serupa garis-garis hujan yang juga terjun sesuka hatinya. Menyentuh tanah, menyentuh aspal, menyentuh pagar, menyentuh orang-orang yang lewat, tetapi tidak bisa menyentuh kamu yang dikepung oleh dinding-dinding.

“Pada saat motret, gue jadi seperti tamu yang dateng ke rumah seseorang. Di situ gue nyoba nyari yang nggak gue dapet di rumah gue, atau kadang justru nanya apa, sih, yang bikin gue kebentuk seperti yang sekarang ini. Banyak tabrakan pikiran, rasa, dan lain-lain,” papar Henrycus ketika ditanya soal rumah dan keluarga dalam karyanya. 


“Tired of lying in the sunshine staying home to watch the rain
And you are young and life is long and there is time to kill today …”*

… dan dari dalam rumah, di balik kemungilan Ruangdepan S.14, tawa seorang gadis kecil pecah tak terkepung apa-apa, membunuh kesepian hitam putih di langit dan langit-langit. 

Sundea

*cuplikan lirik Time, Pink Floyd



Ikutilah Photography Workshop 1-8 Agustus 2010
“B/W processing & Dark Room technique”
Tutor : Henrycus Napit Sunargo
Limited to 10 people/session
Rp. 100.000,00 (including material)
CP : Herra (081573737138)

Diskusi di Curipandang dalam Sabotase Onde Mande

-Gandaria, Markas Curipandang, 25 Juli 2010-
keroncong“Daripada ngomongin Dea, mending ngomongin aku aja. Cerita-cerita Dea, sih, nggak penting !” Onde Mande, boneka monyet Dea yang selalu ingin menjadi selebritis memprovokasi semua pengunjung diskusi #klubuku di Curipandang. Curipandang.com adalah anggota keluarga Salingsilang.com, sebuah situs yang mengumpulkan data percakapan yang terjadi di dunia maya Indonesia. Curipandang sendiri adalah social media yang memuat tulisan-tulisan seputar dunia hiburan, lifestyle, dan selebritis. Setiap bulan warga Curipandang mengadakan acara #klubuku ; obrolan seputar buku yang membahas genre buku tertentu atau sebuah buku yang mereka anggap menarik.

Bulan ini Salamatahari 1 dan 2 terpilih menjadi buku yang dibahas warga Curipandang. Pada hari Minggu yang cerah, Sundea yang sempat beberapa kali memosting tulisan di Curipandang.com datang untuk bertemu dengan kelu-warga barunya di Curipandang. Karena mengetahui pembahasan Curipandang.com yang berputar di dunia selebritis, Onde Mande merengek-rengek ikut. Dea pun mengizinkannya. Dan apa yang terjadi, Teman-teman ? Onde Mande malah mendominasi acara hari itu …

“Buku ini isinya apa, sih ?” tanya Bieb, salah seorang hadirin, sambil membulak-balik buku mungil tersebut. “Pokoknya cerita-cerita nggak penting Dea, deh. Apalah itu, tentang rumput, tentang bungkus cokelat, tentang laron … Udah ngomongin Onde aja daripada ngomongin buku itu !” sambar Onde. “Bisa, nggak, buku ini dibaca sama anak-anak ?” tanya Sofi, seorang ibu rumah tangga. “Oh, bisa. Asal anaknya bisa membaca,” lagi-lagi Onde menyambar.

“Onde, kamu pernah, nggak, ditulis sama Dea di buku ini ?” tahu-tahu seorang warga Curipandang bertanya. Onde terdiam. Menoleh kepada Dea, kemudian tertunduk, “Belum, sih … Dea nggak pernah nulis tentang Onde …,” ungkapnya dengan suara pelan. Warga Curipandang yang sempat sebal melihat kenarsisan Onde mendadak iba, “Ooooh ….”

Diskusi hari itu berlangsung ringan dan menyenangkan. “Menurut aku buku yang ke dua lebih berat daripada buku yang pertama,” pendapat Sofi. “Lain-lain, Sof. Ada yang bilang yang ke dua ringan banget, yang pertama lebih berat,” tanggap Dea. Dea pun menceritakan latar belakang keseharian Dea ketika mengerjakan kedua buku itu. “Pas ngerjain yang pertama Dea lagi skripsi. Temanya religiositas anak. Di yang ke dua Dea udah lulus dan lagi kerja jadi editor blog Tobucil,” cerita Dea.
difotoin Titiw
“Kayaknya seruan Onde yang cerita,” cetus Titiw, moderator Curipandang.com. Onde mendadak sumringah. “Kaan … betul kaaan … daripada ngomongin Dea mendingan ngomongin Onde !” katanya kurang ajar. Onde pun kembali menghibur pemirsa dengan menyanyi ala Ariel Peterpan. 

“Tahu, nggak, sebetulnya Ariel Peterpan itu aku. Yang pacaran sama Luna Maya juga aku. Ariel yang di penjara itu cuma Ariel bayaran supaya aku nggak harus masuk penjara …,” Onde berbisik-bisik menyampaikan gosip yang sungguh tak bisa dipercaya itu. “Kok gantengan yang di tv ?” tanya Titiw. 

Hari itu markas curipandang yang diliputi wangi pengharum ruangan meriah oleh Onde Mande yang curi-curi kesempatan untuk ikut eksis …
dicuripandang bareng aktivis Curipandang
Sundea
Follow @OndeMande di twitter
Follow @Curipandang di twitter
Foto Onde dijepret dan diedit Rara

K

“Homesick, ‘cause I no longer know where home is …”
-Homesick, Kings of Convenience-
Kaki
K. Kecil, kurus, keras. Umurnya belum sampai 7 tahun waktu papanya masuk penjara dan mamanya terpaksa direhabilitasi karena gangguan jiwa. K keliling dari rumah tante yang satu ke tante yang lain. Nggak ada yang kuat nanganin dia karena kelakuannya yang aneh-aneh. Mulai dari bohong, sampai mencuri.

Tapi K selalu takut ditinggal. Adakalanya dia nangis waktu bangun tidur dan nggak ngeliat orang yang dia kenal. Kalau tantenya pergi ke supermarket, bulak-balik dia nelpon dari rumah untuk mastiin tantenya nggak akan lama-lama.

Setelah mamanya keluar dari rumah sakit, K kembali tinggal sama Si Mama. K yang tau mamanya sayang sekali sama dia selalu berhasil ngebujuk mamanya minta uang ke keluarga besar, dengan alesan yang dikarang-karang, untuk menuhin keinginan dia. Waktu tau, keluarga K marah. Dea inget K yang baru umur 10 taunan diajak ngobrol sama tantenya. Dea nggak ikut ngobrol, tapi cukup merinding ngeliat mata K. Bukan mata anak-anak. Liar. Penuh kewaspadaan. Marah.

Pada suatu ketika K kabur. Menurut seorang paranormal K baik-baik aja. Ada yang berniat meres keluarga K, tapi K nggak pernah mau ngasih alamat. Diem-diem, setelah semua hal yang terjadi antara dia dan keluarga, dia masih berusaha keras ngejaga keluarganya seperti induk singa ngejaga anak. 

Mama K frustrasi waktu tau K ilang entah ke mana. Tapi lama-lama sang mama berterima. Dia ngejalanin idupnya kembali, sampai bertaun-taun kemudian K pulang. Badannya tambah kurus. Waktu sepupu-sepupu yang seumuran dia tambah tinggi, dia seperti nggak bertumbuh. Matanya masih liar dan waspada, tapi lebih lelah dan pasrah.

“Selama ini kamu di mana, K ?” tanya tante K.
“Jaga warnet sama bantu-bantu di restoran Manado. Makan dan tinggal di restoran itu.”
“Apa yang kamu dapet ?”
“Capek.”

Sejak saat itu K kembali tinggal sama Sang Mama. Setelah berapa kali berbohong, ada love-hate relationship yang tajem antara K dan keluarganya. Di satu sisi keluarga ngerasa bertanggung jawab sama dia, tapi di satu sisi udah ilang akal dan kepercayaan nanganin K.

K. Kelam, kompleks, kebal. Saat ini Dea nggak tau persis gimana idup K sehari-hari, nerusin sekolah apa enggak. Tapi somehow Dea percaya dia akan baik-baik aja dengan caranya. Ada insting survival dan hukum rimba yang ngejaga dia sejak kecil ketika nggak ada lagi yang bisa ngejagain dia …

Sundea