Memulung

Sepanjang perjalananmu menuju sesuatu, berbagai cerita bertebaran seperti bunga-bunga. Pulung dan rangkailah, jadikan oleh-oleh untuk siapapun yang akan kau temui di ujung perjalanan nanti.

“Pulung” yang mendasari kata “memulung” mengandung arti “rejeki”. “Memulung” yang selama ini lekat dengan kegiatan mengais dan mengumpulkan sampah ternyata mengusung makna “memungut rejeki”. Alangkah menyenangkannya berjalan-jalan sambil memunguti rejeki yang menjelma berbagai cerita.

Sepanjang perjalanan menuju hari ini, www.salamatahari.com memulung ini dan itu. Ada In Need the Pooh yang ditemui dalam perjalanan menuju Antapani, Pak Memod yang ditemui dalam perjalanan menyusuri Dago, Ikcol yang dilakukan ketika berkunjung ke Pameran Scope di Sabuga, dan oleh-oleh “Kata” dari Rie penyalamatahari minggu ini.

Kita semua adalah pemulung, jangan segan-segan jeli memulung …

Teman-teman, apa yang akan kau pulung dari perjalananmu sendiri ?
Salamatahari, semogaselaluhangat dan cerah,
Sundea

covermemulung

Hang On There In Need the Pooh … !

-Ahmad Yani, Kamis, 1 Juli 2010-
Dalam perjalanan menuju sekolah Mutiara Hati di daerah Antapani, Bandung, boneka Winnie the Pooh yang digantung di atas pangkalan becak Ahmad Yani menarik perhatian saya. Secara impulsif saya menyetop angkot dan turun. Setelah mengamati Pooh yang mengayun-ayun liris ditiup angin, saya bertanya kepada salah satu tukang becak di sana : 







“Ini kenapa digantung di sini, Pak ?”
“Yah … iseng aja, Neng, buat hiasan …”

Sudah sejak dua minggu sebelum hari itu Si Pooh menggantung di situ. Konon dia ditemukan terlantar di solokan setempat, menyumbat alir air. Entah siapa yang berinisiatif, Pooh gendut tanpa bola mata itu diselamatkan dari hantaman air solokan, cuaca, dan sampah. Ia dipelihara di atas pohon; dibersihkan oleh air hujan yang mengalir melalui rimbun daun dan dikeringkan oleh angin dan debu.

“Boneka ini ngebawa keberuntungan, nggak, Pak ?” saya bertanya iseng. Tukang becak yang duduk paling dekat dengan pohon melirik sejenak pada Si Pooh lalu menjawab agak tidak sinkron, “Katanya pohon ini mistis. Suka goyang-goyang sendiri …”











Si Pooh berputar-putar ke segala arah, memantau jalan Ahmad Yani dan solokan yang pernah jadi asalnya. Rafia abu-abu di leher Pooh mencekik sekaligus menjaganya. Matanya buta, tapi saya percaya ia melihat dengan mata hatinya.
Pada akhirnya Pooh berhenti berputar-putar, lurus mengarah kepada plang di belakangnya :

“PANTI SOSIAL ASUHAN INSAN HARAPAN”
Apa yang kau harapkan setelah diselamatkan dan digantung di sana, Pooh ? Apa kamu tahu muatan dalam kata sesederhana “harapan” ?

Angin yang sejak tadi mempermainkan Pooh meliuk ringan, berpindah ke rambut saya lalu menggurat pipi saya tanpa tanda …

Sundea

Pak Memod

Di atas rumput hijau yang membelah Jalan Dago Bandung, seorang bapak duduk searah arus kendaraan. Ia tidak bergulir bersama lalu lintas, tetapi saya yang melintas lalu tertarik bergulir ke arahnya.

“Pak … lagi ngapain, Pak ? Boleh difoto, nggak ?” tanya saya. Bapak itu menatap saya penuh selidik, “Buat apa ?” ia balik bertanya. “Buat ditulis,” sahut saya apa adanya. Entah dengan pertimbangan apa, Si Bapak akhirnya melunak dan mengangguk, “Silahkan saja …”
Sebentar kemudian saya pun sudah ikut duduk di trotoar Jalan Dago, mengobrol dengan Bapak yang ternyata bernama Pak Memod itu. “Sebetulnya nama pemberian ayah saya Ahyadul Kama. Yad artinya yang menolong, Ahya yang menghidupkan, Dul yang mempunyai, Kama kesempurnaan. Tapi supaya tidak ada artinya, oleh kakek dari ibu saya diganti jadi Memod,” paparnya.
Selama setengah jam Pak Memod menceracau tentang segala hal ; mulai dari tentara-tentara pintar yang akan dimusnahkan, pengalaman hampir dirampok dan dipukuli, saudaranya yang banyak sekali, kekagumannya pada Ibrahim, Zulkarnaen, dan Napoleon, sampai perjalanannya bersepeda setiap hari dari daerah Ciwastra. “Tujuannya apa, Pak ?” tanya saya. “Kalau orang mau dimusnahkan, apakah saya diam ?” ia malah balik bertanya.

Tidak ada yang jelas dari ceracau Pak Memod, namun sesuatu yang mengilat dari mata dan suaranya membuat saya entah bagaimana betah mendengarkan. “Keputusan itu ada di hati. Orang selamat bukan karena perkataannya, tapi karena apa yang keluar dari hatinya,” ujar Pak Memod. Ia lalu berhenti berbicara. Jeda dalam hela nafasnya.








“Pak, kalau bendera putih di topi Bapak itu ada artinya, nggak ?” tanya saya. “Ini lambang Robbi. Saya tidak pernah sendiri dalam keadaan apapun juga,” sahut Pak Memod. Saya tersenyum.

Sepeda Pak Memod bersandar di undakan. Pedal kayuh yang biasanya menggantung di sisi sepeda kali itu menjaga kestabilan, menginjak trotoar hitam-putih. Tidak ada standard besi yang menjaga si sepeda, atau mungkin si sepeda menentukan standard dengan caranya sendiri.

Bendera putih yang dipancang pada sepeda berkibar-kibar menyapa lalu lintas. Dalam pengertian lain, bendera putih adalah lambang menyerah kalah …

Sundea

… Featuring Ikcol

-Sabuga, Sabtu, 03 Juli 2010-

Pameran Pendidikan Scope featuring Pameran Komik MKI featuring ikcol (iklan colongan) Salamatahari. Sungguh seru dan berhierarki adanya, bukan … ? ;)

di antara panel komik masyarakat …

tersisip sepotong Ikcol

Setelah Dea memotret ikcol-ikcol di dinding diam-diam merayap itu, masyarakat datang untuk melihatnya. Asyiiiikkk …

Kata

Aku adalah pecinta kata.
Setiap hari aku makan kata,
tidur bersama kata,
jalan-jalan bersama kata.
Aku tidak pernah kesepian
sebab kata selalu menemani.
Kata juga yang membersihkan
badanku dari segala kotoran,
membalut perih akibat luka
yang menganga,
memberi energi pada otakku
agar aku terus berpikir.
Cuma kata yang membuatku bertahan.
Di atas kata aku berdiri.
Kata selalu menopangku dalam keadaan apapun,
menjadi bantal yang selalu kupeluk
saat senang dan sedih.
Aku adalah pecinta kata.
Kuungkapkan perasaanku padanya lewat kata-kata.

salamataha-rie Rie Yanti suka menulis tentang apa saja dan suka narsis melihat tulisannya dipajang di blog-nya sendiri, my stoRIEs. Cewek yang berangan-angan kerja di Pixar ini juga menabung tulisan di Warung Fiksi, Tobucil, dan AnakPerempuandanAyah.