Arti J : Sebuah Payung

salamatahari Mungkin kalau ditanya apa benda yang paling eksis di musim hujan, jawabannya adalah payung. Benda yang pas musim kemarau cuma digantung atau ditaro dipojokan rumah, sekarang hampir ga pernah absen mengisi tas para ‘korban’ hujan. Sejujurnya gw rada males bawa payung, karena berat. Secara gw tipe anak yang suka bawa tas sekecil dan seringan mungkin kalau bisa. Hehe. 

Dibalik stereotip payung sebagai alat ampuh penangkal hujan mendarat di kepala, sebenernya payung memang mempunyai dasar fungsi mulia untuk selalu melindungi. Ya memang, gak hanya dari air hujan, dari terik panas matahari, atau mungkin juga kalo kita dilempari tomat saat manggung. Hehehe. 

Di musim hujan ini, payung juga tampak menjadi sahabat terbaik baju 1 para pengojek payung dadakan. Dengan bermodalkan satu payung, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan, yang mungkin bisa untuk ‘melindungi’ mereka dari tunggakan uang sekolah, kelaperan, atau amukan orangtua yang maksa anaknya nyari duit.

Dan kalo buat gw sendiri? Gw yang pemalas membawa payung ini akhirnya memutuskan untuk membawa payung juga akhirnya. Gw pikir daripada sakit dan malah lebih berabe, mendingan rada berkorban berat-beratan dikit. 

Ternyata payung memberikan keajaiban buat gw hari itu. Payung memang selama ini selalu siap melindungi hanya ketika tubuhnya  direntangkan, namun kali ini ia memberikan caranya yang lain untuk melindungi gw. Payung lipat itu gw bawa di tas bersama dengan barang2 gw yang lagi bejubel di tas. Saat sedang asik makan siang, tidak sengaja baju 2teman gw menyenggol gelas berisi es teh manis yang masih agak penuh. Dengan suksesnya gelas itu membasahi tas gw. Gw langsung kaget dan secepat kilat memeriksa isi tas. Ponsel yang gw beli dengan jerih payah gw sendiri itu soalnya sedang bermukim di dalam tas. Dengan panik gw cek tas gw, dan betapa bersyukurnya gw ketika melihat ponsel gw ada tepat di bawah payung lipat tadi. Badan payung yang terlipat telah terbalur tumpahan air es teh manis. Segera gw kluarkan untuk dikeringkan, agar dia tidak kedinginan J. Betapa bersyukurnya gw atas keputusan membawa payung hari itu, dan gw rasa itu bukan kebetulan, si payung memang sengaja menarik perhatian gw untuk pada akhirnya gw bawa dan melindungi ponsel gw dari tragedi tumpahnya es teh manis.


‘Hujan’ memang bisa datang kapan saja, dan mengguyur secara tiba-tiba. Dan kehadiran payung lipat yang kecil ini tak disangka berhasil memberikan arti besar untuk gw, dengan cara yang berbeda dan tidak seperti biasanya. Terima kasih ya J

Avanti Vai Anggia adalah redaktur mode di majalah Dewi

penyalamatahari adalah teman-teman yang men-salamatahari dan menyalakan matahari

1 komentar:

M. Lim mengatakan...

VAI MANIS SEKALI!
hihihihi

*grauk*
*eh lho keterusan gigit*

Posting Komentar